Gangguan Jiwa di Ciamis Meningkat, RSUD Kawali Simpulkan Faktor Penyebabnya.
- account_circle KangHasan
- calendar_month Selasa, 6 Jan 2026
- visibility 10
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Wartaloka, BERITA CIAMIS – “Hirup kudu loba syukur jeung ulah luhur teuing hate, sabab hirup mah sok aya waktuna naék jeung turun.”
Pepatah Sunda itu mengingatkan bahwa rasa syukur dan sikap tawadlu kerap menjadi penyangga batin saat hidup berada dalam tekanan. Namun realitas di lapangan menunjukkan, tidak semua orang mampu bertahan ketika beban ekonomi dan persoalan rumah tangga datang bersamaan.
Itulah gambaran yang kini tercermin dari data gangguan jiwa di Ciamis. Sepanjang tahun 2025, RSUD Kawali mencatat peningkatan signifikan jumlah pasien dengan gangguan kejiwaan. Tekanan ekonomi dan konflik dalam rumah tangga disebut sebagai faktor pemicu utama tren tersebut.
148 Pasien Sepanjang 2025, Mayoritas Usia Produktif
Direktur RSUD Kawali, Evie Tiyanti, mengungkapkan bahwa selama 2025 pihaknya telah melayani 148 pasien gangguan jiwa. Mayoritas pasien berjenis kelamin laki-laki dan berada pada rentang usia produktif, yakni 20 hingga 40 tahun.
“Jika dilihat dari tren bulanan, banyak pasien datang dengan diagnosis skizofrenia. Gejalanya meliputi halusinasi, perubahan perilaku, pikiran kacau, serta emosi yang tidak stabil. Faktor pemicu utamanya masih didominasi masalah ekonomi dan rumah tangga,” ujar Evie, Senin (5/1/2026).
Menurutnya, tekanan hidup yang datang bertubi-tubi sering kali membuat seseorang kehilangan kemampuan mengelola stres, hingga akhirnya berdampak pada kesehatan mental.
Kapasitas Terbatas, Layani Pasien dari Luar Daerah
Evie menjelaskan, RSUD Kawali tidak hanya melayani warga Kabupaten Ciamis, tetapi juga menerima pasien rujukan dari luar daerah. Seluruh layanan kesehatan jiwa di rumah sakit ini dapat diakses oleh pasien pengguna BPJS Kesehatan.
“Saat ini kami memiliki delapan tempat tidur untuk pasien gangguan jiwa, terdiri dari empat ruang akut dan empat ruang tenang,” jelasnya.
Dengan keterbatasan kapasitas tersebut, rumah sakit harus melakukan penyesuaian layanan, terutama ketika jumlah pasien meningkat dalam waktu bersamaan. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi fasilitas kesehatan daerah dalam merespons meningkatnya kasus gangguan jiwa di Ciamis.
Judi Online Bukan Faktor Dominan
Menanggapi isu maraknya gangguan jiwa akibat kecanduan judi online, Evie menegaskan bahwa faktor tersebut memang ada, namun tidak dominan. Berdasarkan data sepanjang 2025, hanya satu pasien yang tercatat memiliki dugaan gangguan jiwa akibat judi online.
“Mayoritas kasus tetap dipicu oleh tekanan ekonomi dan persoalan keluarga. Judi online bukan faktor utama di sini,” tegasnya.
Terkait penanganan medis, Evie menyebutkan bahwa metode dan durasi perawatan sangat bergantung pada tingkat keparahan kondisi pasien. Sebagian cukup menjalani rawat jalan, sementara pasien dengan kondisi berat memerlukan perawatan intensif melalui rawat inap.
“Penanganan sangat bervariasi, tergantung kondisi pasien saat pertama kali datang,” pungkasnya.
Meningkatnya pasien gangguan jiwa di Ciamis dan sekitarnya, khususnya pasien di RSUD Kawali ini dapat menjadi sinyal penting bahwa persoalan ekonomi dan ketahanan keluarga tidak bisa dipandang sebelah mata. Di sinilah nilai syukur, kerendahan hati, dan saling menguatkan dalam keluarga kembali menemukan relevansinya di tengah tekanan hidup yang kian kompleks. (KH)
- Penulis: KangHasan
