Hardiknas: Dunia Pendidikan Makin Buram Dan Memprihatinkan
- account_circle KangHasan
- calendar_month Kamis, 7 Mei 2026
- visibility 120
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Wartaloka, OPINI – Setiap 2 Mei, kita disuguhi pemandangan yang sama. Upacara khidmat, pidato bertenaga, seragam putih yang katanya lambang kesucian niat. Tapi mari jujur sejenak: apakah “suci” masih jadi kata yang tepat untuk potret pendidikan kita hari ini?
Ruang Pendidikan = Ruang Darurat Moral?
Di balik gegap gempita seremonial itu, ruang kelas pelan-pelan berubah jadi ruang darurat moral. Berita kekerasan dan pelecehan seksual oleh pelajar bukan lagi satu-dua kasus.
Joki UTBK dan plagiat bukan lagi aib, tapi “strategi”. Narkoba menyelinap ke bangku sekolah. Dan yang paling getir: guru yang mendidik dengan ketegasan justru lebih cepat masuk jeruji daripada murid yang melanggar aturan.
Kalau ini disebut “kenakalan remaja”, mungkin kita sedang terlalu baik hati memberi nama pada sebuah kegagalan sistemik.
Sistem pendidikan sekuler kapitalistik yang kita rawat hari ini memang pandai mencetak angka. Tapi ia gagal mencetak manusia. Yang lahir adalah generasi yang disuruh bermimpi tinggi, tapi tidak dibekali kompas moral untuk sampai ke sana.
Wajar jika jalan pintas jadi pilihan. Ketika agama hanya jadi pelajaran 2 jam seminggu, dan sanksi hukum lembek untuk anak di bawah umur, jangan heran jika ruang kebebasan berubah jadi ruang kebablasan.
Islam: Pendidikan adalah Proyek Peradaban
Islam memandang ini dengan cara berbeda. Pendidikan bukan pabrik ijazah. Ia adalah proyek peradaban. Tujuannya jelas: melahirkan insan yang cerdas otaknya, hidup hatinya. Solusinya hanya satu, yaitu penerapan Islam kaffah yang menjadikan aqidah Islam sebagai asas kurikulum.
Di dalamnya ada sanksi yang mendidik, bukan memanjakan. Ada negara yang aktif menciptakan suasana takwa, bukan pasif menonton degradasi. Ada sinergi keluarga, sekolah, dan masyarakat yang semua berjalan di atas rel syariat yang sama.
Ini bukan nostalgia kejayaan masa lalu. Ini tawaran masa depan. Maka, Hardiknas kali ini jangan lagi jadi panggung pembenaran. Anggap ia sebagai tamparan halus: sampai kapan kita memoles gedung yang pondasinya retak? Mau terus bertahan dengan sistem yang jelas-jelas sakit, atau mulai berani merujuk pada resep Islam kaffah yang pernah terbukti menyembuhkan peradaban.
Ahsri Zahra Nuraini – Pelajar
Parongpong KBB
- Penulis: KangHasan
