426 Kasus dalam Empat Bulan, Mengapa Kekerasan terhadap Anak Terus Berulang?
- account_circle KangHasan
- calendar_month Minggu, 7 Jun 2026
- visibility 127
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Kekerasan terhadap Anak: Buah Pahit Sekularisme Kapitalisme
Wartaloka, OPINI – Kasus kekerasan terhadap anak di Indonesia kembali menjadi sorotan. Anak-anak yang seharusnya mendapatkan kasih sayang, perlindungan, dan pendidikan yang layak justru menjadi korban berbagai bentuk kekerasan, baik fisik, psikis, seksual, maupun eksploitasi di ruang digital.
Data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menunjukkan bahwa selama Januari hingga April 2026 terdapat 426 laporan pengaduan terkait kasus kekerasan terhadap anak. Kasus yang paling banyak terjadi adalah pelecehan seksual, sementara lingkungan rumah justru menjadi lokasi yang paling dominan dalam terjadinya kekerasan.
Di saat yang sama, keterlibatan anak dalam praktik judi online juga semakin mengkhawatirkan. Fakta ini menjadi alarm serius bahwa ancaman terhadap generasi muda Indonesia datang dari berbagai arah sekaligus.
Mengapa Kekerasan terhadap Anak Terus Berulang?
Banyak pihak menilai maraknya kasus kekerasan terhadap anak disebabkan oleh lemahnya pengawasan keluarga atau faktor individu semata. Namun jika dicermati lebih dalam, persoalan ini menunjukkan adanya masalah yang lebih mendasar dalam kehidupan masyarakat.
Fenomena kekerasan yang terus berulang mengindikasikan adanya krisis nilai yang memengaruhi cara pandang manusia terhadap anak, keluarga, dan tanggung jawab sosial. Ketika kehidupan lebih banyak diarahkan pada kepentingan materi, kepuasan individu, dan pencapaian duniawi, maka perlindungan terhadap anak sering kali tidak lagi menjadi prioritas utama.
Akibatnya, anak yang seharusnya dipandang sebagai amanah justru berpotensi menjadi korban pelampiasan emosi, tekanan ekonomi, maupun berbagai bentuk penyimpangan sosial lainnya.
Selanjutnya –> Faktor tekanan ekonomi
- Penulis: KangHasan
