Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Opini » 426 Kasus dalam Empat Bulan, Mengapa Kekerasan terhadap Anak Terus Berulang?

426 Kasus dalam Empat Bulan, Mengapa Kekerasan terhadap Anak Terus Berulang?

  • account_circle KangHasan
  • calendar_month Minggu, 7 Jun 2026
  • visibility 327
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Tekanan Ekonomi dan Keretakan Kehidupan Keluarga

Tidak dapat dimungkiri bahwa tekanan ekonomi juga menjadi salah satu faktor yang memperbesar risiko terjadinya kekerasan dalam rumah tangga, termasuk terhadap anak.

Mahalnya biaya hidup, sulitnya lapangan pekerjaan, serta kesenjangan sosial yang semakin lebar menciptakan tekanan psikologis bagi banyak keluarga. Dalam situasi tertentu, tekanan tersebut dapat memicu konflik yang berujung pada kekerasan.

Karena itu, persoalan perlindungan anak tidak dapat dipisahkan dari kondisi sosial dan ekonomi yang melingkupi kehidupan masyarakat secara keseluruhan.

Mengapa Solusi yang Ada Belum Menyentuh Akar Masalah?

Berbagai program perlindungan anak terus dilakukan, mulai dari kampanye edukasi, pendampingan korban, hingga penegakan hukum terhadap pelaku.

Namun fakta bahwa kasus kekerasan terhadap anak terus berulang menunjukkan bahwa pendekatan yang ada belum sepenuhnya menyentuh akar persoalan.

Banyak kebijakan masih berfokus pada penanganan setelah kejahatan terjadi, sementara upaya membangun lingkungan yang mampu mencegah lahirnya kekerasan belum berjalan secara optimal.

Perspektif Islam dalam Melindungi Anak dan Generasi

Islam memandang anak sebagai amanah yang wajib dijaga, dididik, dan dilindungi. Karena itu, Islam tidak hanya mengatur hubungan antara orang tua dan anak, tetapi juga mengatur tanggung jawab masyarakat dan negara dalam menjaga generasi.

Rasulullah SAW bersabda:

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”

Hadis ini menunjukkan bahwa perlindungan terhadap anak bukan hanya tanggung jawab keluarga, tetapi juga menjadi tanggung jawab kolektif yang harus dijalankan oleh seluruh elemen masyarakat.

Membangun Sistem yang Benar-Benar Melindungi Generasi

Maraknya kasus kekerasan terhadap anak hari ini menunjukkan bahwa perlindungan generasi tidak cukup dilakukan melalui slogan, kampanye sesaat, atau penindakan setelah kejahatan terjadi.

Diperlukan sistem kehidupan yang mampu membangun keluarga yang kuat, masyarakat yang peduli, media yang sehat, serta negara yang menjalankan fungsi perlindungan secara menyeluruh.

Karena itu, pembahasan mengenai kekerasan terhadap anak tidak boleh berhenti pada persoalan pelaku dan korban semata. Yang lebih penting adalah memastikan hadirnya sistem yang mampu menjaga generasi sejak awal, sehingga anak-anak dapat tumbuh dalam lingkungan yang aman, sehat, dan penuh kasih sayang.

Sebab masa depan bangsa pada hakikatnya sedang dipersiapkan melalui bagaimana generasi mudanya diperlakukan hari ini. (lsd/kh) 

Penulis: Lusita Sari Devi-Parongpong KBB
Aktivis muslimah

  • Penulis: KangHasan

Rekomendasi Untuk Anda

  • DLH Kota Bandung Angkut Puluhan Meter Kubik Sampah Pascamalam Tahun Baru 2026

    DLH Kota Bandung Angkut Puluhan Meter Kubik Sampah Pascamalam Tahun Baru 2026

    • calendar_month Kamis, 1 Jan 2026
    • account_circle KangHasan
    • visibility 198
    • 0Komentar

    Wartaloka, BERITA BANDUNG – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung bergerak cepat melakukan pembersihan sampah pascamalam pergantian Tahun Baru 2026. Berdasarkan keterangan resmi DLH Kota Bandung, pembersihan dilakukan secara intensif sejak malam hingga dini hari dengan menyasar kawasan pusat aktivitas masyarakat yang menjadi lokasi perayaan. Langkah ini diambil untuk memastikan kebersihan Kota Bandung tetap terjaga […]

  • Kopdes Merah Putih: Program Populis yang Sarat Polemik

    Kopdes Merah Putih: Program Populis yang Sarat Polemik

    • calendar_month Rabu, 12 Agt 2026
    • account_circle KangHasan
    • visibility 134
    • 0Komentar

    Koperasi desa Merah Putih menjadi program ekonomi desa yang menuai polemik, dari tata kelola hingga efektivitas bagi masyarakat.

  • Sudah Melapor Sejak Januari, Yani Rahmawati Baru Didengar Setelah Videonya Viral

    Sudah Melapor Sejak Januari, Yani Rahmawati Baru Didengar Setelah Videonya Viral

    • calendar_month Senin, 8 Jun 2026
    • account_circle KangHasan
    • visibility 340
    • 0Komentar

    Sudah melapor sejak Januari 2026, Yani Rahmawati baru menjadi perhatian publik setelah video dugaan penganiayaan viral di media sosial.

  • Antisipasi Macet Long Weekend, Dishub Bandung Siaga

    Antisipasi Macet Long Weekend, Dishub Bandung Siaga

    • calendar_month Jumat, 3 Apr 2026
    • account_circle KangHasan
    • visibility 226
    • 0Komentar

    Wartaloka, BERITA BANDUNG – Pemerintah Kota Bandung bersiap menghadapi lonjakan kunjungan wisatawan selama libur panjang 3–5 April 2026 yang bertepatan dengan momen Wafat Isa Almasih. Kondisi ini diprediksi memicu macet long weekend di sejumlah ruas jalan utama dan kawasan wisata.Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bandung pun langsung mengambil langkah strategis dengan memperkuat pengawasan lalu lintas di […]

  • Hasil Akhir PSM Makassar vs Persib Bandung: Julio Cesar Jadi Pahlawan

    Hasil Akhir PSM Makassar vs Persib Bandung: Julio Cesar Jadi Pahlawan

    • calendar_month Minggu, 17 Mei 2026
    • account_circle KangHasan
    • visibility 247
    • 0Komentar

    Hasil akhir PSM Makassar vs Persib Bandung berakhir 1-2. Julio Cesar jadi pahlawan kemenangan Persib lewat gol dramatis di injury time.

  • Kemandirian Warga di Cisolok: Saat Penyintas Bergerak Tanpa Menunggu Negara

    Kemandirian Warga di Cisolok: Saat Penyintas Bergerak Tanpa Menunggu Negara

    • calendar_month Sabtu, 17 Jan 2026
    • account_circle KangHasan
    • visibility 226
    • 0Komentar

    Wartaloka, BERITA SUKABUMI – Kemandirian warga di Dusun Citiis, Desa Gunung Karamat, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, pada akhirnya menjadi cermin reflektif bagi para pemangku kebijakan. Bukan sekadar tentang absennya bantuan, tetapi tentang kecepatan respons dan keberpihakan nyata terhadap masyarakat terdampak bencana. Di bawah terik matahari cucuran keringat warga, suara cangkul dan sekop beradu dengan tanah […]

expand_less