426 Kasus dalam Empat Bulan, Mengapa Kekerasan terhadap Anak Terus Berulang?
- account_circle KangHasan
- calendar_month Minggu, 7 Jun 2026
- visibility 128
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Tekanan Ekonomi dan Keretakan Kehidupan Keluarga
Tidak dapat dimungkiri bahwa tekanan ekonomi juga menjadi salah satu faktor yang memperbesar risiko terjadinya kekerasan dalam rumah tangga, termasuk terhadap anak.
Mahalnya biaya hidup, sulitnya lapangan pekerjaan, serta kesenjangan sosial yang semakin lebar menciptakan tekanan psikologis bagi banyak keluarga. Dalam situasi tertentu, tekanan tersebut dapat memicu konflik yang berujung pada kekerasan.
Karena itu, persoalan perlindungan anak tidak dapat dipisahkan dari kondisi sosial dan ekonomi yang melingkupi kehidupan masyarakat secara keseluruhan.
Mengapa Solusi yang Ada Belum Menyentuh Akar Masalah?
Berbagai program perlindungan anak terus dilakukan, mulai dari kampanye edukasi, pendampingan korban, hingga penegakan hukum terhadap pelaku.
Namun fakta bahwa kasus kekerasan terhadap anak terus berulang menunjukkan bahwa pendekatan yang ada belum sepenuhnya menyentuh akar persoalan.
Banyak kebijakan masih berfokus pada penanganan setelah kejahatan terjadi, sementara upaya membangun lingkungan yang mampu mencegah lahirnya kekerasan belum berjalan secara optimal.
Perspektif Islam dalam Melindungi Anak dan Generasi
Islam memandang anak sebagai amanah yang wajib dijaga, dididik, dan dilindungi. Karena itu, Islam tidak hanya mengatur hubungan antara orang tua dan anak, tetapi juga mengatur tanggung jawab masyarakat dan negara dalam menjaga generasi.
Rasulullah SAW bersabda:
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”
Hadis ini menunjukkan bahwa perlindungan terhadap anak bukan hanya tanggung jawab keluarga, tetapi juga menjadi tanggung jawab kolektif yang harus dijalankan oleh seluruh elemen masyarakat.
Membangun Sistem yang Benar-Benar Melindungi Generasi
Maraknya kasus kekerasan terhadap anak hari ini menunjukkan bahwa perlindungan generasi tidak cukup dilakukan melalui slogan, kampanye sesaat, atau penindakan setelah kejahatan terjadi.
Diperlukan sistem kehidupan yang mampu membangun keluarga yang kuat, masyarakat yang peduli, media yang sehat, serta negara yang menjalankan fungsi perlindungan secara menyeluruh.
Karena itu, pembahasan mengenai kekerasan terhadap anak tidak boleh berhenti pada persoalan pelaku dan korban semata. Yang lebih penting adalah memastikan hadirnya sistem yang mampu menjaga generasi sejak awal, sehingga anak-anak dapat tumbuh dalam lingkungan yang aman, sehat, dan penuh kasih sayang.
Sebab masa depan bangsa pada hakikatnya sedang dipersiapkan melalui bagaimana generasi mudanya diperlakukan hari ini. (lsd/kh)
Penulis: Lusita Sari Devi-Parongpong KBB
Aktivis muslimah
- Penulis: KangHasan
