Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Opini » Dollar Tembus Rp18.000, Rakyat Butuh Solusi Bukan Sekadar Motivasi

Dollar Tembus Rp18.000, Rakyat Butuh Solusi Bukan Sekadar Motivasi

  • account_circle KangHasan
  • calendar_month Minggu, 7 Jun 2026
  • visibility 370
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Wartaloka, OPINI – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali menjadi perhatian publik setelah menyentuh angka Rp18.000 per dolar AS. Kenaikan kurs dollar ini memunculkan kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi Indonesia, mulai dari harga kebutuhan pokok, biaya produksi, hingga daya beli masyarakat yang berpotensi semakin tertekan.

Di tengah kekhawatiran masyarakat terhadap kondisi ini, pemerintah menyatakan fundamental ekonomi Indonesia masih kuat (DetikNews, 5 Juni 2026).

Di saat yang sama, beredar pula berbagai nasihat yang mengajak masyarakat untuk tetap tenang. Salah satunya adalah pernyataan yang kurang lebih berbunyi,

“Tidak perlu khawatir, Allah akan memberikan rezeki meskipun dolar mencapai Rp18.000.”

Sebagai muslim, tentu kita meyakini bahwa Allah SWT adalah Ar-Razzaq, Dzat Yang Maha Memberi Rezeki. Tidak ada satu makhluk pun yang luput dari jaminan rezeki-Nya.

Namun, keyakinan tersebut seharusnya tidak membuat kita berhenti bertanya mengapa kondisi ekonomi terus membebani rakyat. Jangan sampai nasihat yang semestinya menguatkan justru membuat umat terbiasa menerima kesulitan tanpa berupaya mencari akar masalahnya.

Kurs Rupiah Melemah adalah Fakta

Fakta menunjukkan bahwa pelemahan rupiah bukan sekadar angka di layar monitor. Ketika nilai tukar melemah, biaya impor meningkat, harga berbagai kebutuhan berpotensi naik, termasuk bahan baku industri dan obat-obatan. Bahkan sejumlah pihak telah mengingatkan adanya potensi kenaikan harga obat sebagai dampak melemahnya rupiah (DetikNews, 6 Juni 2026).

Sayangnya, ketika kondisi seperti ini terjadi, rakyat sering kali hanya diminta bersabar, berhemat, dan menyesuaikan diri. Seolah-olah persoalannya terletak pada kemampuan rakyat untuk bertahan, bukan pada sistem yang terus melahirkan persoalan yang sama dari waktu ke waktu.

Padahal Islam tidak mengajarkan sabar yang pasif. Sabar dalam Islam bukan berarti diam melihat kerusakan, lalu menganggap semua akan selesai dengan sendirinya. Allah SWT berfirman:

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia…” (QS. Ar-Rum: 41).

Ayat ini mengajarkan bahwa ketika muncul kerusakan, manusia diperintahkan untuk menyadari penyebabnya dan memperbaikinya, bukan sekadar menerima akibatnya.

Islam juga menempatkan penguasa sebagai pengurus urusan rakyat. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Imam adalah pemelihara dan pengatur urusan rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang diurusnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Karena itu, ketika rakyat menghadapi tekanan ekonomi, solusi yang dibutuhkan tidak cukup berupa motivasi agar tetap kuat dan optimis. Yang lebih dibutuhkan adalah kebijakan dan sistem yang benar-benar mampu melindungi kehidupan mereka.

Tawakal Bukan Pembiaran

Di sinilah pentingnya membedakan antara tawakal dan pembiaran. Tawakal adalah bersandar kepada Allah setelah melakukan ikhtiar terbaik. Adapun pembiaran adalah menerima kerusakan tanpa berusaha mengubahnya. Keduanya jelas berbeda.

Islam tidak hanya mengajarkan umat untuk bersabar menghadapi kesulitan, tetapi juga menghadirkan seperangkat aturan yang mengatur kehidupan secara menyeluruh.

Karena itu, ketika krisis ekonomi terus berulang, Islam tidak memandangnya sekadar sebagai persoalan teknis yang cukup diselesaikan dengan tambal sulam kebijakan. Persoalan ini berkaitan dengan sistem yang menjadi landasan pengaturan ekonomi negara.

Dampak Sistem Ekonomi Kapitalisme

Hari ini, negeri-negeri muslim, termasuk Indonesia, masih menerapkan sistem ekonomi kapitalisme yang menjadikan keuntungan sebagai orientasi utama, membuka ruang bagi praktik ribawi, serta membuat perekonomian rentan terhadap gejolak global.

Akibatnya, ketika nilai tukar dolar menguat, rakyat kembali menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya.

Berbeda dengan kapitalisme, Islam memiliki sistem ekonomi yang bersumber dari wahyu. Islam mengharamkan riba, mewajibkan negara mengelola sumber daya alam untuk kepentingan rakyat, menjamin pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat, serta mengatur distribusi kekayaan agar tidak beredar di kalangan tertentu saja.

Dalam Islam, negara bukan sekadar regulator, melainkan pengurus yang bertanggung jawab penuh terhadap kesejahteraan rakyatnya.

Karena itu, ketika dolar menembus Rp18.000, umat tidak cukup diajak untuk tetap tenang dan bersabar. Umat juga perlu diajak melihat akar persoalan yang sesungguhnya.

Sebab kesulitan yang terus berulang tidak akan selesai hanya dengan motivasi, sementara sistem yang melahirkannya tetap dipertahankan.

Penerapan Islam dalam Aspek Kehidupan

Allah SWT memang menjamin rezeki setiap hamba-Nya. Namun Allah juga menurunkan syariat sebagai pedoman mengatur kehidupan.

Di tengah meningkatnya perhatian masyarakat terhadap kurs dollar hari ini dan melemahnya nilai tukar rupiah, pertanyaan yang terus muncul adalah apakah persoalan ekonomi yang berulang ini hanya akan dihadapi dengan imbauan untuk bersabar, ataukah akan disertai solusi yang mampu menyentuh akar masalahnya.

Maka solusi hakiki bukan hanya menguatkan mental rakyat agar mampu bertahan dalam kesulitan, melainkan menghadirkan penerapan Islam secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan, termasuk dalam pengelolaan ekonomi dan urusan rakyat.

Dengan itulah kesabaran tidak berubah menjadi kepasrahan, tetapi menjadi energi untuk memperjuangkan perubahan yang diridhai Allah SWT. (vs/kh) 

Penulis: Vera Selpia – Parongpong KBB

Pendidik

 

  • Penulis: KangHasan

Rekomendasi Untuk Anda

  • Strategi Swasembada Pangan Tasikmalaya Dimulai dari Siswa

    Strategi Swasembada Pangan Tasikmalaya Dimulai dari Siswa

    • calendar_month Selasa, 20 Jan 2026
    • account_circle KangHasan
    • visibility 215
    • 0Komentar

    Wartaloka, BERITA TASIKMALAYA – Upaya mewujudkan swasembada pangan Tasikmalaya kini tidak lagi sebatas wacana kebijakan. Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya mulai menanamkan konsep kemandirian pangan langsung dari lingkungan sekolah melalui peluncuran gerakan satu siswa satu pohon di Kecamatan Cikalong. Program yang diresmikan Bupati Tasikmalaya, H. Cecep Nurul Yakin, ini menjadi pendekatan baru dalam membangun ketahanan pangan jangka […]

  • Walikota Bandung mengaskan pelarangan menyalakan kembang api di Tahun Baru 2026

    Pemkot Bandung: Tahun Baru 2026 Tanpa Kembang Api,

    • calendar_month Rabu, 31 Des 2025
    • account_circle KangHasan
    • visibility 201
    • 0Komentar

    Wartaloka. BERITA BANDUNG – Perayaan Tahun Baru 2026 tanpa kembang api resmi diberlakukan di seluruh wilayah Kota Bandung. Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung melarang warga menyalakan petasan dan kembang api pada malam pergantian tahun sebagai langkah menjaga keamanan, ketertiban, serta kenyamanan masyarakat. Kebijakan tersebut disampaikan langsung oleh Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, pada Selasa, 30 Desember […]

  • Relokasi PKL Teras Cihampelas Perlu Kajian Dampak Risiko Sosial

    Relokasi PKL Teras Cihampelas Perlu Kajian Dampak Risiko Sosial

    • calendar_month Minggu, 18 Jan 2026
    • account_circle KangHasan
    • visibility 210
    • 0Komentar

    Wartaloka, BERITA BANDUNG – Rencana Pemerintah Kota Bandung untuk merelokasi pedagang kaki lima (PKL) di kawasan Teras Cihampelas kembali menuai sorotan. Pengamat Kebijakan Publik Universitas Padjadjaran (Unpad), Yogi Suprayogi Sugandi, menilai kebijakan tersebut perlu dikaji secara mendalam agar tidak menimbulkan persoalan baru, baik dari sisi sosial, ekonomi, maupun ketertiban kota. Menurut Yogi, relokasi PKL memang […]

  • Film “Pesta Babi”, Kritik yang Dibungkam dalam Demokrasi Kapitalisme

    Film “Pesta Babi”, Kritik yang Dibungkam dalam Demokrasi Kapitalisme

    • calendar_month Senin, 25 Mei 2026
    • account_circle KangHasan
    • visibility 333
    • 0Komentar

    Film Pesta Babi memicu polemik usai sejumlah nobar dibubarkan. Kritik terhadap demokrasi kapitalisme, konflik lahan, dan kebebasan berpendapat.

  • Wali Kota Sukabumi Siap Perkuat Kinerja Birokrasi dengan cara ini

    Wali Kota Sukabumi Siap Perkuat Kinerja Birokrasi dengan cara ini

    • calendar_month Jumat, 2 Jan 2026
    • account_circle KangHasan
    • visibility 200
    • 0Komentar

    Wartaloka, BERITA SUKABUMI – Wali Kota Sukabumi Ayep Zaki membuat terobosan baru dalam tata kelola pemerintahan daerah dengan menerapkan Key Performance Indicator (KPI) bagi seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) mulai tahun anggaran 2026. Kebijakan ini diarahkan untuk memperkuat kinerja birokrasi sekaligus meningkatkan transparansi pengelolaan keuangan daerah di lingkungan Pemerintah Kota Sukabumi. Kebijakan tersebut menjadi salah […]

  • Persib Juara Paruh Musim, Tapi Thom Haye Ungkap Fakta Mengejutkan

    Persib Juara Paruh Musim, Tapi Thom Haye Ungkap Fakta Mengejutkan

    • calendar_month Senin, 12 Jan 2026
    • account_circle KangHasan
    • visibility 213
    • 0Komentar

    Wartaloka, BERITA JABAR – Persib Bandung menutup paruh musim BRI Super League 2025/26 dengan hasil sempurna. Kemenangan tipis 1-0 atas Persija Jakarta dalam laga sarat gengsi bertajuk El Clasico Indonesia mengantarkan Maung Bandung ke puncak klasemen sekaligus menyabet gelar juara paruh musim. Kemenangan ini disambut antusias ribuan Bobotoh. Atmosfer stadion dinilai luar biasa dan kembali […]

expand_less