Pemkot Bandung Serius Bangun Ketahanan Mental Pelajar, Sekolah Tak Lagi Sekadar Tempat Belajar
- account_circle KangHasan
- calendar_month Senin, 9 Feb 2026
- visibility 71
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Wartaloka, BERITA BANDUNG – Pemerintah Kota Bandung semakin menegaskan komitmennya dalam membangun ketahanan mental dan karakter pelajar. Melalui Dinas Pendidikan (Disdik), Pemkot mendorong penguatan kolaborasi lintas organisasi perangkat daerah (OPD) agar penanganan persoalan psikologis anak dilakukan secara menyeluruh, tidak parsial, dan berkelanjutan.
Langkah ini sejalan dengan arahan Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, yang menilai bahwa kesehatan mental anak sama pentingnya dengan capaian akademik. Sekolah, menurutnya, tidak boleh dipersempit hanya sebagai ruang transfer ilmu, tetapi juga sebagai lingkungan aman untuk pembentukan karakter dan penguatan mental peserta didik, terutama pada jenjang TK, SD, hingga SMP.
Pemkot menilai fase usia tersebut sebagai periode krusial yang akan menentukan arah perkembangan anak, baik secara emosional, sosial, maupun psikologis.
Program Karakter dan Bela Negara Jadi Fondasi Awal
Kepala Disdik Kota Bandung, Asep Saeful Gufron, menjelaskan bahwa upaya penguatan kesehatan mental siswa sejatinya telah dimulai sejak 2025. Salah satu program utama yang dijalankan adalah penguatan karakter berbasis bela negara dengan melibatkan unsur TNI dan Polri.
Program ini dirancang untuk membentuk pola pikir positif, menanamkan nilai kemandirian dan tanggung jawab, serta meningkatkan daya tahan mental siswa agar tidak mudah terpengaruh tekanan, provokasi, maupun intimidasi di lingkungan sosial mereka.
“Tahun lalu kami prioritaskan untuk siswa kelas 9 SMP karena mereka berada di fase paling rentan. Program ini bertujuan membangun ketahanan mental agar anak-anak tidak mudah goyah,” ujar Asep, Jumat, 6 Februari 2026.
Disdik menilai pendekatan karakter ini penting sebagai pondasi awal sebelum intervensi lanjutan dilakukan melalui layanan psikologis yang lebih spesifik.
Kolaborasi OPD, Pendekatan Menyeluruh
Dalam implementasinya, Disdik Kota Bandung tidak bekerja sendiri. Sejumlah OPD dilibatkan untuk memastikan penanganan kesehatan mental anak berjalan komprehensif. Di antaranya Dinas Kesehatan (Dinkes), Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A), serta Dinas Sosial (Dinsos).
Kolaborasi ini mencerminkan kesadaran dari Pemerintah Kota Bandung bahwa persoalan kesehatan mental anak berkaitan erat dengan faktor kesehatan, perlindungan, hingga kondisi sosial keluarga dan lingkungan sekitar.
“Masalah kesehatan mental tidak bisa ditangani satu sektor saja. Harus kolaboratif, karena menyentuh banyak aspek kehidupan anak,” tegas Asep.
Guru BK Diperkuat, Deteksi Dini Jadi Kunci
Selain program karakter, Disdik Kota Bandung juga memperkuat peran guru Bimbingan Konseling (BK) sebagai garda terdepan deteksi dini persoalan psikologis siswa. Seluruh guru BK se-Kota Bandung direncanakan mengikuti pelatihan khusus dengan melibatkan Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi).
Melalui pelatihan ini, guru BK diharapkan mampu mengenali perubahan perilaku, pola pikir, serta potensi risiko kesehatan mental pada siswa sejak tahap awal.
“Usia SMP sangat rentan. Tergantung bagaimana kita mengarahkan dan mengisi pola pikir mereka. Guru BK harus punya kapasitas lebih untuk membaca tanda-tandanya,” ujar Asep.
Pendampingan hingga Rujukan Khusus
Di luar peran guru BK, Disdik juga mengandalkan tenaga psikolog untuk melakukan asesmen mendalam terhadap siswa yang terindikasi mengalami gangguan kesehatan mental. Hasil asesmen tersebut menjadi dasar penentuan langkah lanjutan, mulai dari pendampingan intensif di sekolah hingga rujukan ke layanan pendidikan atau kesehatan yang lebih sesuai.
Bagi siswa yang masih memungkinkan mengikuti pembelajaran reguler, pendampingan akan dilakukan secara khusus. Sementara siswa dengan kemampuan jauh di bawah rata-rata akan dikoordinasikan dengan orang tua untuk kemungkinan rujukan ke sekolah luar biasa (SLB).
Mengacu pada data Dapodik, terdapat ribuan peserta didik penyandang disabilitas di Kota Bandung yang kini menjadi fokus perhatian Disdik, baik di sekolah negeri maupun swasta.
Pemkot Bandung menegaskan bahwa upaya ini merupakan investasi jangka panjang demi melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga tangguh secara mental dan emosional. (KH)
- Penulis: KangHasan
