Prabowo Tegur Maraknya Baliho, Pemda Diminta Serius Tata Wajah Kota
- account_circle KangHasan
- calendar_month Rabu, 4 Feb 2026
- visibility 9
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Wartaloka, BERITA BOGOR – Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menegaskan pentingnya penataan wajah kota, khususnya terkait maraknya reklame, baliho, dan spanduk yang dinilai sudah berlebihan dan mengganggu estetika lingkungan perkotaan. Penegasan tersebut disampaikan dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026 yang digelar di Sentul International Convention Center (SICC), Kabupaten Bogor, Senin (2/2/2026).
Rakornas ini dihadiri para kepala daerah dari seluruh Indonesia, mulai dari gubernur, bupati, hingga wali kota, serta jajaran kementerian dan lembaga terkait. Forum tersebut menjadi momentum penyamaan persepsi antara pemerintah pusat dan daerah dalam mewujudkan tata kelola pemerintahan yang lebih tertib dan berorientasi pada kepentingan publik.
Dalam arahannya, Presiden Prabowo menekankan bahwa ruang publik harus dijaga agar tetap indah, nyaman, dan tidak dipenuhi oleh visual yang mengganggu. Menurutnya, keberadaan reklame yang terlalu masif justru merusak citra kota, terutama bagi wisatawan.
“Spanduk-spanduk terlalu banyak. Kalau saya ke Balikpapan, Banjarmasin, sampai ke Hambalang, isinya spanduk semua. Kenapa harus besar-besar sih? Turis datang tidak mau melihat spanduk,” ujar Presiden Prabowo.
Bogor Disebut Kota Indah yang Harus Dijaga
Presiden Prabowo secara khusus menyinggung Kota Bogor sebagai salah satu kota dengan nilai historis dan estetika tinggi yang harus dijaga wajah kotanya. Ia mengingatkan bahwa Bogor sejak dahulu dikenal sebagai kota yang tertata dan asri.
“Bogor itu dulu kota paling indah. Bung Karno bahkan lebih senang di Bogor daripada di Jakarta. Terlalu banyak spanduk, baliho, iklan, tolong ditertibkan,” tegasnya.
Arahan tersebut menjadi pengingat bagi pemerintah daerah agar tidak hanya mengejar potensi pendapatan dari sektor reklame, tetapi juga mempertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan visual kota. Presiden juga menekankan pentingnya pendekatan dialogis dalam proses penertiban, khususnya kepada pelaku usaha periklanan.
“Ajak bicara pengusaha dan asosiasi pengusaha. Bikin iklan yang tidak terlalu mencolok. Orang datang ingin melihat kotanya, bukan papan iklan yang besar-besar,” kata Prabowo.
Selain reklame, Presiden turut menyoroti persoalan kabel listrik dan utilitas yang semrawut di sejumlah daerah. Ia mendorong seluruh pemerintah daerah untuk menggalakkan Kampanye Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, dan Indah) sebagai gerakan bersama menciptakan kota yang tertib dan nyaman bagi masyarakat.
Pemkot Bogor Klaim Sudah Tertibkan Billboard
Menanggapi arahan Presiden, Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim menyampaikan bahwa Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor telah melakukan langkah konkret dalam menata reklame di wilayahnya. Salah satunya melalui penertiban billboard dan videotron di jalur-jalur utama kota.
“Sampai saat ini Pemkot Bogor sudah menebang lebih dari 50 billboard dan videotron di jalur protokol dan sistem satu arah (SSA),” ujar Dedie.
Ia menambahkan, Pemkot Bogor juga berencana mempercepat pemutusan kontrak terhadap perpanjangan izin reklame yang telah terlanjur diterbitkan pada tahun 2024. Langkah ini diambil sebagai bentuk komitmen pemerintah daerah dalam menindaklanjuti arahan Presiden.
“Ke depan kami akan mempercepat pemutusan kontrak dari perpanjangan izin-izin yang terlanjur dikeluarkan pada tahun 2024,” pungkasnya.
Dengan adanya penegasan dari Presiden dan respons pemerintah daerah, penataan reklame diharapkan dapat berjalan lebih terukur, berkeadilan, serta mampu mengembalikan fungsi ruang publik sebagai ruang bersama yang nyaman dan berestetika. (KH)
- Penulis: KangHasan
