Pemkab Akhiri Status Tanggap Darurat Banjir Bandang di Sukabumi
- account_circle Admin Wartaloka
- calendar_month Sabtu, 1 Nov 2025
- visibility 8
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
wartaloka.com, PERISTIWA. Pemerintah Kabupaten Sukabumi resmi menghentikan status tanggap darurat banjir setelah serangkaian penanganan cepat dilakukan sejak bencana banjir bandang menerjang wilayah Cisolok pada akhir Oktober 2025. Keputusan ini diambil setelah kondisi dinilai lebih terkendali, meski dampak kerusakan masih luas dan ribuan warga terdampak masih membutuhkan pemulihan jangka panjang.
Awal Kejadian: Banjir Bandang Terjang Cisolok pada 27 Oktober 2025
Banjir bandang menghantam Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, pada Senin, 27 Oktober 2025. Hujan deras dengan intensitas tinggi sejak siang hari menyebabkan debit air sungai naik cepat dan menyeret material lumpur, kayu, serta batu besar. Arus deras merusak sejumlah fasilitas umum dan pemukiman warga.
Salah satu titik paling parah berada di Kampung Cibuntu, di mana sebuah jembatan putus terseret derasnya aliran banjir. Rumah-rumah warga mengalami kerusakan beragam, mulai dari rusak sedang hingga berat. Warga yang terkejut dengan cepatnya aliran air terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih tinggi untuk menyelamatkan diri.
Tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sukabumi langsung bergerak tidak lama setelah laporan pertama masuk. Evakuasi dilakukan secara manual karena akses jalan menuju beberapa lokasi terdampak terputus. Relawan dan warga setempat turut membantu mengevakuasi lansia, anak-anak, dan korban yang terjebak di rumah masing-masing.
Status Tanggap Darurat Dihentikan: Pemkab Mulai Fokus pada Pemulihan
Setelah tiga hari menjalankan tahap tanggap darurat, Pemerintah Kabupaten Sukabumi pada Kamis, 30 Oktober 2025, mengumumkan penghentian status tersebut. Keputusan ini diambil dalam rapat koordinasi antara Pemkab Sukabumi, BPBD, TNI–Polri, serta sejumlah perangkat daerah terkait.
Menurut keterangan resmi Pemkab Sukabumi, situasi sudah terkendali dan tidak ada lagi potensi banjir susulan dalam waktu dekat. Penanganan beralih dari darurat menjadi tahap pemulihan, yang meliputi perbaikan rumah warga, penyediaan kebutuhan dasar, serta pembenahan infrastruktur yang rusak.
Pemkab juga menegaskan bahwa pendataan kerusakan dan kebutuhan warga terdampak menjadi prioritas utama saat ini. Setelah itu, pemerintah akan mengatur mekanisme bantuan lanjutan, termasuk perbaikan fasilitas umum dan jembatan yang putus.
Namun, meski status tanggap darurat dihentikan, tim tetap bersiaga di sejumlah titik rawan. Pemkab menilai bahwa percepatan pemulihan harus segera dilakukan agar aktivitas masyarakat bisa kembali normal.
Korban dan Kerusakan: 141 Rumah Rusak, Ribuan Warga Terdampak
Berdasarkan data terbaru BPBD Sukabumi hingga Jumat, 31 Oktober 2025, sebanyak 3.291 jiwa terdampak langsung banjir dan longsor yang terjadi bersamaan di beberapa wilayah. Dari jumlah tersebut, ratusan warga sempat mengungsi karena rumah mereka tak lagi dapat ditempati.
Banjir dan longsor tercatat merusak 141 rumah warga. Rinciannya, puluhan rumah mengalami kerusakan berat akibat diterjang material lumpur dan batu, sementara sisanya mengalami kerusakan sedang dan ringan. Selain itu, sejumlah fasilitas umum seperti jalan desa, jembatan, dan saluran irigasi juga rusak parah.
BPBD melaporkan bahwa longsor turut menutup beberapa ruas jalan penghubung antar-kampung. Hingga akhir Oktober, sebagian besar jalan sudah dapat dilalui setelah dilakukan pembersihan oleh petugas gabungan.
Untuk kebutuhan warga terdampak, pemerintah menyediakan dapur umum, layanan kesehatan darurat, serta bantuan logistik yang mencakup makanan siap saji, air bersih, selimut, dan perlengkapan bayi. Meski begitu, sejumlah warga mengaku masih membutuhkan bantuan tambahan berupa peralatan rumah tangga dan bahan bangunan untuk memperbaiki rumah mereka.
Pemkab Imbau Warga Tetap Waspada
Meski cuaca saat ini cenderung stabil, Pemkab Sukabumi tetap mengimbau warga agar meningkatkan kewaspadaan. Wilayah Cisolok dan sekitarnya termasuk daerah rawan bencana hidrometeorologi, terutama saat memasuki puncak musim hujan.
Pemerintah berjanji akan mempercepat pemetaan wilayah rawan dan memperkuat koordinasi dengan pemerintah desa agar sistem peringatan dini bencana berjalan lebih optimal. Selain itu, edukasi kebencanaan akan kembali digiatkan di lingkungan masyarakat.
Dengan berakhirnya status tanggap darurat, Pemkab Sukabumi berharap proses pemulihan berjalan cepat dan situasi kembali normal. Namun, tantangan terbesar ke depan adalah memastikan perbaikan infrastruktur dan hunian warga terdampak dapat rampung sebelum intensitas hujan meningkat lagi. (AR)
- Penulis: Admin Wartaloka

Saat ini belum ada komentar