Bupati Bogor Tegaskan: Ciliwung Milik Bersama, Warga Diminta Ikut Menjaga
- account_circle KangHasan
- calendar_month Sabtu, 7 Feb 2026
- visibility 71
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Wartaloka, BERITA BOGOR – Pemerintah Kabupaten Bogor secara terbuka mengajak masyarakat lintas wilayah untuk tidak lagi bersikap pasif terhadap kondisi Sungai Ciliwung. Ajakan ini menegaskan satu pesan utama: menjaga hulu sungai bukan sekadar tugas pemerintah daerah, melainkan tanggung jawab kolektif seluruh warga yang menggantungkan hidupnya pada aliran Ciliwung.
Pesan tersebut disampaikan langsung oleh Bupati Bogor, Rudy Susmanto, saat memimpin kegiatan penanaman pohon di kawasan hulu Sungai Ciliwung, Cisarua, Rabu (5/2/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari program penanaman pohon serentak serta pembangunan hutan kota di 40 kecamatan se-Kabupaten Bogor.
Menurut Rudy, posisi hulu Ciliwung yang berada di wilayah Bogor tidak boleh menjadi alasan daerah lain untuk lepas tangan. Sebaliknya, seluruh masyarakat di wilayah hilir perlu terlibat aktif menjaga ekosistemnya.
“Hulu Sungai Ciliwung ini milik kita semua. Bukan hanya Kabupaten Bogor yang bertanggung jawab, tetapi seluruh masyarakat yang peduli terhadap lingkungan dan sumber air,” tegasnya.
Dari Puncak hingga Jakarta, Dampaknya Saling Terhubung
Sungai Ciliwung mengalir dari kawasan Puncak, Kabupaten Bogor, melintasi Depok, hingga bermuara di Jakarta dan wilayah sekitarnya. Aliran panjang ini menjadikan kondisi hulu sebagai faktor penentu kualitas lingkungan di hilir.
Kerusakan tutupan lahan, alih fungsi kawasan resapan, serta menurunnya vegetasi di hulu secara langsung meningkatkan risiko banjir, longsor, dan krisis air bersih. Dalam konteks ini, Rudy menilai kepedulian masyarakat harus dibangun sejak sekarang, bukan menunggu bencana datang.
Ia menyebut langkah menjaga hulu sungai sebagai bentuk “investasi air” yang manfaatnya tidak selalu instan, namun krusial bagi keberlanjutan lingkungan.
“Kalau wilayah resapan terjaga, dampak negatif seperti banjir dan kerusakan lingkungan bisa kita minimalisir bersama,” ujarnya.
Penanaman Pohon Bukan Simbolik, Tapi Awal Tanggung Jawab
Pemerintah pusat melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan turut menguatkan pesan tersebut. Staf Ahli Menteri Lingkungan Hidup RI, Nur Ari Wardoyo, menilai program Bogor Menanam untuk Indonesia sebagai langkah konkret berbasis kajian ilmiah.
Menurutnya, pemulihan tutupan lahan di hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung terbukti mampu menurunkan risiko bencana hidrometeorologi, meskipun hasilnya tidak bisa dirasakan secara instan.
“Pemulihan ekosistem hulu DAS Ciliwung adalah langkah strategis untuk menekan banjir dan longsor di wilayah hilir, termasuk Jakarta,” katanya.
Ia menegaskan bahwa penanaman pohon tidak boleh berhenti pada seremoni. Tantangan sesungguhnya justru terletak pada perawatan dan perlindungan pohon-pohon yang telah ditanam.
Ujian Kepedulian Publik terhadap Sungai
Baik pemerintah daerah maupun pusat sepakat bahwa pemulihan Ciliwung tidak akan berhasil tanpa keterlibatan aktif masyarakat. Perubahan perilaku, kepedulian terhadap lingkungan sekitar sungai, serta keberanian menjaga kawasan resapan menjadi kunci utama.
Ajakan ini sekaligus menjadi ujian bagi publik: apakah Sungai Ciliwung hanya diingat saat banjir datang, atau benar-benar dijaga sebagai sumber kehidupan bersama.
“Ini kerja kolektif. Kalau dirawat bersama, manfaatnya akan kembali kepada kita semua,” pungkas Nur Ari Wardoyo.
(KH)
- Penulis: KangHasan
