Kondisi Pasar Cikurubuk Saat Ini, Mode Bertahan Hidup ?
- account_circle KangHasan
- calendar_month Kamis, 26 Feb 2026
- visibility 8
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Wartaloka, BERITA TASIKMALAYA — Kondisi Pasar Cikurubuk Kota Tasikmalaya hari ini bukan sekadar isu ekonomi, melainkan cerminan denyut nadi perdagangan rakyat yang tengah melemah. Sebagai pasar induk terbesar di Tasikmalaya, Pasar Cikurubuk Tasikmalaya seharusnya menjadi pusat perputaran ekonomi masyarakat kecil. Namun realitas di lapangan menunjukkan banyak kios tutup, pembeli berkurang, dan pedagang bertahan dalam situasi serba sulit.
Fenomena ini memunculkan satu pertanyaan besar: apakah kita akan membiarkan pasar rakyat ini perlahan kehilangan fungsinya?
Kondisi Pasar Cikurubuk: Sepi yang Kian Terasa
Pantauan di sejumlah blok menunjukkan lorong pasar tidak seramai dulu. Beberapa kios tampak kosong dan tak lagi beroperasi. Pedagang mengaku omzet turun drastis dalam beberapa bulan terakhir.
“Sekarang pembeli jauh berkurang. Kadang sehari belum tentu balik modal,” ujar salah seorang pedagang pakaian yang sudah belasan tahun berjualan di Cikurubuk.
Senada dengan itu, ada pula seorang pedagang sayuran, menyebut penurunan omzet bisa mencapai lebih dari 40 persen dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
“Keluhan pedagang Cikurubuk bukan cuma soal sepi pembeli, tapi juga soal kondisi fasilitas pasar yang perlu pembenahan,” katanya.
Jalan akses yang rusak, drainase kurang optimal, serta persaingan dengan ritel modern dan belanja online menjadi kombinasi tekanan yang tidak ringan.
Suara Tokoh: Harapan dan Tekanan Moral
Tokoh masyarakat Tasikmalaya, KH Miftah Fauzi, turut menyoroti serius kondisi pasar Cikurubuk. Menurutnya, pasar tradisional bukan sekadar tempat jual beli, tetapi ruang sosial yang menghidupi ribuan keluarga.
“Pasar ini menyangkut hajat hidup orang banyak. Pemerintah harus hadir dengan kebijakan yang nyata, bukan hanya wacana. Pedagang kecil perlu keberpihakan,” ujarnya dalam salah satu pertemuan bersama pedagang.
Ia juga mengingatkan bahwa keberlangsungan pasar tradisional adalah bagian dari menjaga ekonomi umat.
Baca juga : Tuntutan Pedagang Pasar Cikurubuk: Dorong Penataan Profesional dan Iklim Usaha Sehat
Sementara itu, Ketua HIPPATAS H. Achmad Jahid, S.H., menegaskan bahwa pedagang pasar tradisional seharusnya tidak dibiarkan berjuang sendirian.
“Kami bersaing dengan pasar modern, dengan penjualan online, ditambah lagi dampak kondisi ekonomi, pihaknya terus mendorong dialog dengan pemerintah daerah agar ada solusi konkret.”
“Kami tidak ingin konflik, kami ingin solusi. Keluhan pedagang Cikurubuk ini nyata. Harapan kami sederhana: fasilitas diperbaiki, kebijakan berpihak, dan ada dorongan agar masyarakat kembali belanja ke pasar,” tegasnya.
Menurutnya, jika pasar dibiarkan lesu terlalu lama, bukan hanya para pedagang di Pasar Cikurubuk Tasikmalaya ini yang terdampak, tetapi juga rantai distribusi lokal.
Baca juga: Tuntutan Resmi Pedagang Pasar Cikurubuk, HIPPATAS Kirim Surat ke 9 Instansi
Keluhan Pedagang Cikurubuk: Antara Bertahan dan Menyerah
Beberapa pedagang mengaku kini hanya bisa bertahan dengan stok terbatas. Modal diputar kecil karena khawatir barang tidak laku.
“Dulu bisa kulakan banyak, sekarang takut numpuk,” ujar seorang pedagang sembako.
Kondisi pasar Cikurubuk Tasikmalaya saat ini memperlihatkan perubahan pola konsumsi masyarakat yang makin condong ke belanja daring dan minimarket modern. Namun di sisi lain, pasar tradisional tetap menawarkan harga yang bersaing dan interaksi sosial yang tak tergantikan.
Masalahnya bukan semata pada sistem, tetapi juga pada partisipasi kolektif.
Saatnya Gerakan Bersama: “Hayu Ka Cikurubuk!”
Menyikapi situasi ini, perlu ada gerakan moral dan sosial untuk menghidupkan kembali pasar kebanggaan Tasikmalaya ini.
Ajakan kepada masyarakat dan para ASN sangat penting. Jika setiap keluarga di Tasikmalaya menyisihkan waktu minimal seminggu sekali untuk berbelanja di pasar tradisional, dampaknya akan sangat terasa bagi para pedagang.
Bayangkan jika ribuan ASN dan pegawai instansi rutin berbelanja kebutuhan rumah tangga di Pasar Cikurubuk. Perputaran uang lokal akan kembali hidup.
Jargon sederhana namun kuat bisa digaungkan:
– “Hayu Ka Cikurubuk!” –
Gerakan ini bukan hanya soal belanja, tapi tentang solidaritas ekonomi lokal.
Jangan Biarkan Cikurubuk Redup
Kondisi pasar Cikurubuk adalah alarm bagi semua pihak. Pemerintah perlu mempercepat pembenahan infrastruktur dan kebijakan. Organisasi pedagang harus terus membangun komunikasi. Tokoh masyarakat perlu menjaga semangat kolektif.
Namun yang tak kalah penting: masyarakat juga punya peran besar.
Jika pasar ini mati, maka yang hilang bukan hanya kios-kios kosong. Yang hilang adalah denyut ekonomi rakyat kecil.
Maka, mari mulai dari langkah sederhana.
“Hayu ka Cikurubuk.”
Karena dari sana, ekonomi Tasikmalaya bisa kembali bergerak. (KH)
- Penulis: KangHasan
