Kurs Dollar Capai Rp18.095, Salah Siapa?
- account_circle KangHasan
- calendar_month Sabtu, 6 Jun 2026
- visibility 92
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Saat Prabowo Bicara Dollar Naik: Menenangkan Rakyat atau Meremehkan Masalah?
Beberapa waktu lalu, Presiden Prabowo Subianto sempat melontarkan pernyataan yang ramai diperbincangkan publik. Menanggapi kekhawatiran terhadap penguatan dolar AS, Prabowo mengatakan bahwa masyarakat desa pada dasarnya tidak menggunakan dolar dalam kehidupan sehari-hari.
Pernyataan tersebut menuai beragam tanggapan. Sebagian pihak menganggapnya terlalu menyederhanakan persoalan ekonomi yang kompleks. Namun sebagian lainnya melihat pernyataan itu sebagai upaya untuk menenangkan masyarakat agar tidak terjebak dalam kepanikan berlebihan.
Penulis cenderung melihatnya dari sudut pandang yang kedua. Dalam situasi ekonomi yang sensitif, kepanikan massal sering kali justru memperburuk keadaan.
Ketika masyarakat kehilangan rasa percaya diri terhadap kondisi ekonomi, mereka cenderung menahan konsumsi, menunda investasi, bahkan melakukan tindakan spekulatif yang pada akhirnya menciptakan tekanan tambahan terhadap perekonomian.
Meski demikian, perkembangan nilai tukar rupiah yang terus melemah menunjukkan bahwa pesan ketenangan tersebut tampaknya belum sepenuhnya mampu meredam kekhawatiran pasar maupun masyarakat. Setidaknya, kondisi hari ini menjadi bukti bahwa membangun optimisme publik membutuhkan lebih dari sekadar pidato atau pernyataan politik.
Kepercayaan adalah fondasi ekonomi. Ketika kepercayaan melemah, pasar bereaksi. Ketika kepercayaan menguat, pasar pun perlahan membaik.
Sentimen Positif dan Ekonomi: Benarkah Kepanikan Bisa Memperburuk Rupiah?
Dalam dunia pengembangan diri dikenal sebuah konsep yang populer bernama law of attraction. Intinya sederhana: energi positif cenderung menarik hal-hal positif, sementara energi negatif sering kali melahirkan dampak negatif yang lebih besar.
Terlepas dari perdebatan ilmiah mengenai konsep tersebut, prinsip dasarnya sebenarnya cukup relevan dalam kehidupan sosial dan ekonomi. Sentimen masyarakat memiliki pengaruh nyata terhadap perilaku ekonomi. Ketika publik dipenuhi rasa takut, pesimisme, dan kekhawatiran berlebihan, aktivitas ekonomi bisa melambat karena semua orang memilih menunggu dan berjaga-jaga.
Sebaliknya, ketika masyarakat tetap tenang, produktif, dan optimistis, roda ekonomi akan terus bergerak. Pelaku usaha tetap berjualan, konsumen tetap berbelanja sesuai kebutuhan, dan investor tetap melihat peluang di tengah tantangan.
Karena itu, ada beberapa sentimen positif yang dapat dilakukan masyarakat dalam menghadapi situasi saat ini.
Pertama, tidak ikut menyebarkan informasi yang belum terverifikasi dan berpotensi menimbulkan kepanikan.
Kedua, tetap mendukung produk dalam negeri sehingga permintaan terhadap sektor riil nasional tetap terjaga.
Ketiga, meningkatkan produktivitas dan keterampilan agar memiliki daya saing yang lebih kuat di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Keempat, menjaga optimisme dengan tetap rasional, bukan menutup mata terhadap masalah, tetapi percaya bahwa setiap tantangan memiliki solusi.
Tentu saja sentimen positif saja tidak cukup untuk menguatkan rupiah. Pemerintah tetap harus bekerja keras menjaga stabilitas ekonomi, memperkuat investasi, meningkatkan ekspor, dan memastikan kebijakan fiskal maupun moneter berjalan efektif. Namun masyarakat juga memiliki peran penting dalam menjaga kepercayaan dan stabilitas sosial.
Pada akhirnya, pertanyaan “Kurs Dollar Capai Rp18.095, Salah Siapa?” mungkin tidak memiliki jawaban sesederhana yang dibayangkan banyak orang.
Karena sering kali persoalan ekonomi bukan tentang mencari kambing hitam, melainkan tentang bagaimana seluruh elemen bangsa mampu menghadapi tantangan dengan kepala dingin, kerja nyata, dan optimisme yang terukur.
Di tengah gejolak ekonomi global, ketenangan bisa jadi merupakan aset yang sama berharganya dengan uang itu sendiri. (kh)
- Penulis: KangHasan
