Pemprov Jabar Keluarkan Peringatan Dini DBD, Warga Diminta Waspada
- account_circle KangHasan
- calendar_month Senin, 9 Feb 2026
- visibility 143
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Wartaloka, BERITA JAWA BARAT – Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Pemprov Jabar) kembali mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi lonjakan kasus dan pencegahan Demam Berdarah Dengue (DBD). Peringatan ini disampaikan melalui akun Instagram resmi Humas Jabar sebagai respons terhadap kondisi musim hujan yang masih berlangsung di sejumlah wilayah.
DBD merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Nyamuk ini dikenal mudah berkembang biak di lingkungan lembap dan genangan air yang kerap muncul saat curah hujan tinggi. Kondisi tersebut menjadikan kawasan permukiman padat sebagai wilayah yang rentan terhadap penyebaran DBD.
Pemprov Jabar menilai bahwa kewaspadaan masyarakat menjadi faktor penentu dalam menekan risiko penularan, terutama di tengah perubahan cuaca yang tidak menentu.
Gejala Awal Jangan Dianggap Sepele
Pemprov Jabar mengimbau masyarakat agar tidak mengabaikan gejala awal DBD, khususnya demam tinggi yang tidak kunjung turun. Warga diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan apabila mengalami tanda-tanda yang mengarah pada DBD.
Sejumlah gejala umum yang perlu diwaspadai antara lain demam tinggi secara mendadak, tubuh terasa sangat lemas, mual dan muntah, nyeri perut berlebihan, hingga tanda-tanda perdarahan. Perdarahan dapat muncul secara kasat mata seperti mimisan atau gusi berdarah, maupun tidak terlihat secara langsung.
Pemerintah menekankan bahwa keterlambatan penanganan dapat meningkatkan risiko komplikasi serius, sehingga deteksi dan penanganan dini menjadi langkah krusial untuk menekan angka kesakitan dan kematian akibat DBD.
Gerakan 3M Plus Ditekankan Kembali
Untuk mencegah penyebaran DBD, Pemprov Jabar kembali mengajak masyarakat menerapkan gerakan 3M Plus secara konsisten. Gerakan ini dinilai sebagai langkah paling efektif dan mudah dilakukan oleh warga di lingkungan masing-masing.
Gerakan 3M meliputi menguras dan menyikat tempat penampungan air secara rutin, menutup rapat wadah penyimpanan air, serta membasmi jentik nyamuk yang berkembang di sekitar rumah. Langkah ini bertujuan memutus siklus hidup nyamuk Aedes aegypti sebelum berkembang menjadi dewasa.
Sementara itu, unsur “Plus” mencakup berbagai upaya tambahan untuk mengurangi risiko gigitan nyamuk, seperti menggunakan kelambu saat tidur, memakai lotion atau semprotan anti nyamuk, menanam tanaman pengusir nyamuk, serta memelihara ikan pemakan jentik di kolam atau bak air.
Lingkungan Bersih Jadi Kunci Pencegahan
Pemprov Jabar juga mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan sebagai benteng utama pencegahan DBD. Tumpukan sampah, barang bekas yang dapat menampung air hujan, serta saluran air yang tersumbat menjadi lokasi favorit bagi nyamuk untuk berkembang biak.
Selain itu, tindakan fogging disebut hanya sebagai langkah pendukung dan bukan solusi utama. Fogging dilakukan bila ditemukan kasus DBD di suatu wilayah dan harus dibarengi dengan pemberantasan sarang nyamuk agar hasilnya efektif.
Melalui peringatan ini, Pemprov Jabar berharap kesadaran kolektif masyarakat dapat terus ditingkatkan. Pencegahan DBD tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga membutuhkan peran aktif seluruh warga.
“DBD bisa dicegah jika masyarakat disiplin menjaga kebersihan lingkungan dan menerapkan 3M Plus secara konsisten,” demikian pesan yang disampaikan Pemprov Jabar.
Dengan kewaspadaan bersama, pemerintah optimistis risiko lonjakan kasus DBD dapat ditekan, sehingga kesehatan masyarakat Jawa Barat tetap terjaga sepanjang musim hujan. (KH)
- Penulis: KangHasan
