Pergeseran Tanah Bantargadung: Lereng Gundul Jadi Sorotan
- account_circle KangHasan
- calendar_month Selasa, 3 Mar 2026
- visibility 80
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Wartaloka, BERITA SUKABUMI — Bencana kembali terjadi di wilayah selatan Kabupaten Sukabumi. Ratusan warga Kampung Cijambe, Desa Bantargadung, Kecamatan Bantargadung, terpaksa meninggalkan rumah mereka setelah pergeseran tanah dipicu hujan ekstrem melanda kawasan tersebut, Senin (02/03/2026).
Sedikitnya 104 Kepala Keluarga (KK) atau 324 jiwa kini bertahan di tenda darurat. Kejadian yang terjadi secara bertahap itu membuat struktur bangunan retak dan tanah di sekitar permukiman ambles, sehingga dinilai membahayakan keselamatan warga.
Lereng Gundul Diduga Percepat Pergeseran Tanah
Hasil peninjauan lapangan yang dilakukan unsur Forkopimcam Bantargadung Kabupaten Sukabumi, menemukan indikasi kuat bahwa pergeseran tanah tersebut diperparah oleh kondisi lereng di bagian hulu yang minim vegetasi.
Camat Bantargadung, Rahmat Sarifudin, menjelaskan bahwa area perkebunan perorangan hingga batas perusahaan dalam kondisi relatif gundul. Pohon-pohon yang sebelumnya menjadi penahan alami tanah telah ditebang, sehingga daya ikat tanah melemah.
“Intensitas hujan memang tinggi, tetapi kondisi lereng yang gundul membuat risiko pergeseran tanah meningkat tajam. Tanpa akar pohon sebagai pengikat, tanah mudah bergerak saat diguyur hujan deras,” ujarnya.
Fenomena kejadian di kawasan perbukitan memang kerap terjadi ketika kombinasi antara curah hujan tinggi dan kerusakan tutupan lahan tidak terkendali. Tanah kehilangan struktur stabilnya, lalu bergeser mengikuti kemiringan lereng.
Kondisi ini mempertegas bahwa mitigasi bencana tidak cukup hanya mengandalkan respons darurat, melainkan juga membutuhkan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.
Ratusan Warga Bertahan di Pengungsian
Akibat musibah ini, ratusan warga kini mengungsi di lokasi yang relatif aman. Pemerintah kecamatan Bantargadung dan desa langsung bergerak cepat untuk memastikan keselamatan warga terdampak .
Pendataan dilakukan secara menyeluruh dengan sistem by name by address untuk memastikan seluruh korban tercatat dan memperoleh bantuan sesuai kebutuhan. Data tersebut juga mencakup jumlah bayi, balita, hingga lansia yang membutuhkan perhatian khusus.
Warga mengaku khawatir jika hujan kembali turun dengan intensitas tinggi, karena potensi susulan masih terbuka.
Layanan Kesehatan Siaga 24 Jam
Di tengah situasi darurat akibat peristiwa bencana ini, aspek kesehatan tentu menjadi salah satu prioritas utama. Beruntung, lokasi pengungsian berada tepat di samping gedung Puskesmas Bantargadung.
Kepala Puskesmas Bantargadung, Siska Santika, memastikan seluruh layanan medis digratiskan bagi warga terdampak.
“Kami siagakan petugas 24 jam. Karena tenda pengungsian berdampingan langsung dengan puskesmas, warga terdampak pergeseran tanah bisa langsung mendapatkan layanan tanpa hambatan,” katanya.
Hingga saat ini, kondisi kesehatan para pengungsi relatif stabil. Belum ditemukan lonjakan penyakit menular, kecuali satu warga yang mengalami cedera ringan saat proses evakuasi.
Pihak puskesmas juga telah berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi guna memastikan stok obat-obatan tetap tersedia selama masa tanggap darurat ini.
Tantangan Konsumsi di Bulan Ramadan
Bencana pergeseran tanah ini terjadi di tengah bulan Ramadan, sehingga kebutuhan logistik, khususnya makanan untuk sahur dan berbuka puasa, menjadi perhatian serius.
Namun, pendirian dapur umum resmi masih menunggu terbitnya Surat Keputusan (SK) penetapan status darurat bencana dari pemerintah kabupaten. Tanpa status tersebut, prosedur administrasi belum memungkinkan pembukaan dapur umum secara formal.
Sebagai solusi sementara, pihak kecamatan menggandeng Dapur SPPG Program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk membantu memenuhi kebutuhan makan warga terdampak pergeseran tanah.
“Warga kesulitan memenuhi kebutuhan sahur dan buka puasa akibat pergeseran tanah ini. Sambil menunggu proses administrasi dari Dinsos dan BPBD, kami lakukan langkah diskresi agar bantuan makanan tetap berjalan,” ujar Rahmat.
Langkah cepat ini dinilai penting agar dampak sosial dari pergeseran tanah tidak semakin meluas, terutama bagi anak-anak dan lansia.
Evaluasi dan Mitigasi Jangka Panjang
Peristiwa pergeseran tanah di Bantargadung kembali mengingatkan pentingnya upaya mitigasi berbasis lingkungan. Rehabilitasi lereng melalui penghijauan menjadi langkah mendesak untuk mencegah pergeseran tanah berulang.
Selain itu, pengawasan terhadap aktivitas pembukaan lahan di wilayah hulu perlu diperketat. Tanpa langkah preventif, potensi pergeseran tanah akan terus membayangi warga yang tinggal di kawasan rawan.
Pemerintah daerah diharapkan segera menetapkan status darurat agar penanganan pergeseran tanah dapat dilakukan secara maksimal dan terkoordinasi lintas instansi.
Untuk sementara, ratusan warga Bantargadung masih harus bertahan di pengungsian, menanti kepastian kondisi tanah di kampung halaman mereka benar-benar stabil dan aman dari ancaman pergeseran tanah susulan. (KH)
- Penulis: KangHasan
