Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kupas » Ironi Pengelolaan Aset Pemkot Sukabumi: Lemah Keteladanan

Ironi Pengelolaan Aset Pemkot Sukabumi: Lemah Keteladanan

  • account_circle Admin Wartaloka
  • calendar_month Minggu, 4 Jan 2026
  • visibility 11
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

wartaloka.com, KUPAS. Di balik temuan 351 aset Pemkot Sukabumi yang tidak diketahui keberadaannya, tersimpan ironi tata kelola yang tak bisa diabaikan. Data auditor negara menunjukkan, perangkat daerah dengan fungsi strategis dalam pengelolaan keuangan, perencanaan, dan administrasi justru menempati porsi dominan dalam sebaran aset yang belum dapat diyakini keberadaannya.

Fakta ini membuat persoalan aset bergerak dari sekadar angka menuju pertanyaan struktural. Aset yang tak terlacak bukan hanya berada di unit teknis lapangan, tetapi juga di perangkat daerah yang sehari-hari bergelut dengan pencatatan, pengendalian, dan perencanaan. Dalam konteks ini, masalahnya bukan semata siapa yang memegang barang, melainkan bagaimana sistem bekerja—atau tidak bekerja—sebagaimana mestinya.

Pada unit pengelola keuangan daerah, misalnya, aset yang tak terlacak didominasi perangkat teknologi informasi: laptop, notebook, PC workstation, hingga tablet. Perangkat ini merupakan alat kerja inti untuk penyusunan laporan, pengolahan data, dan pengendalian administrasi. Sebagian tercatat bernilai relatif tinggi dan masih berstatus aktif dalam inventaris. Namun saat pemeriksaan fisik dilakukan, keberadaannya tidak dapat ditunjukkan.

Di sisi lain, unit perencanaan daerah juga mencatat jumlah signifikan aset serupa. Laptop dan tablet yang lazim digunakan untuk analisis program dan perencanaan pembangunan masuk dalam daftar aset yang belum dapat diyakini keberadaannya. Sementara pada Sekretariat Daerah, kendaraan dinas—khususnya sepeda motor operasional—menjadi komponen menonjol, disertai perangkat TIK dalam jumlah tertentu.

Ironi Fungsi dan Lemahnya Pengendalian

Paradoks ini menjadi kunci angle berita. Unit yang bertugas mengelola dan mengendalikan justru berada di lingkaran temuan. Data auditor negara mencatat bahwa kondisi tersebut berkaitan dengan belum optimalnya pengawasan, lemahnya koordinasi inventarisasi, serta kurang cermatnya pencatatan dan pengamanan aset di tingkat unit kerja.

Dalam praktik sehari-hari, pengelolaan aset tak berhenti pada pembelian dan pencatatan awal. Ia menuntut mekanisme serah-terima yang tertib, pengawasan saat terjadi mutasi pegawai, serta pembaruan data inventaris secara berkala. Ketika fungsi-fungsi ini tidak berjalan konsisten, daftar aset mudah tertinggal dari realitas lapangan.

Yang mempertegas ironi, sebagian besar aset tersebut masih dicatat dalam kondisi “baik.” Artinya, secara administrasi aset dianggap ada dan layak pakai. Namun tanpa pembuktian fisik, catatan tersebut kehilangan makna sebagai alat pengendalian. Di titik inilah, tata kelola diuji: apakah pencatatan hanya formalitas, atau benar-benar cermin penguasaan fisik.

Auditor negara menekankan perlunya penelusuran menyeluruh terhadap seluruh aset yang belum dapat diyakini keberadaannya, sekaligus pembenahan sistem pengendalian internal. Rekomendasi ini menuntut pendekatan yang lebih dari sekadar menemukan barang. Akar masalah—mulai dari alur pengadaan, distribusi, hingga pengamanan—perlu dibenahi agar tidak berulang.

Bagi publik Sukabumi, temuan ini membuka ruang refleksi yang lebih luas. Pengelolaan aset daerah bukan hanya soal memenuhi kewajiban administrasi, tetapi memastikan uang publik benar-benar berwujud manfaat nyata. Ketika unit pengelola justru dominan dalam temuan, pembenahan sistem menjadi agenda mendesak, bukan pilihan.

Dengan tenggat tindak lanjut yang telah ditetapkan auditor negara, perhatian kini tertuju pada langkah konkret pemerintah daerah. Apakah penelusuran akan memperjelas keberadaan aset, dan apakah pembenahan sistem mampu memutus paradoks ini. Pada akhirnya, kualitas tata kelola diuji bukan oleh banyaknya aturan, melainkan oleh kemampuan sistem menjaga aset publik tetap berada di tempat yang seharusnya. (AR)

  • Penulis: Admin Wartaloka

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pemkot Bandung Matangkan Kesiapan Transportasi Massal

    Pemkot Bandung Matangkan Kesiapan Transportasi Massal

    • calendar_month Rabu, 7 Jan 2026
    • account_circle KangHasan
    • visibility 12
    • 0Komentar

    Wartaloka – BERITA BANDUNG – Pemerintah Kota Bandung menegaskan tidak akan menunggu kepastian lelang proyek Bus Rapid Transit (BRT) dari pemerintah pusat untuk mulai bersiap. Alih-alih bersikap pasif, Pemkot memilih mematangkan mitigasi risiko agar transportasi massal Bandung dapat berjalan tanpa menimbulkan gejolak sosial dan ekonomi ketika BRT mulai beroperasi. Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyebut, […]

  • tragedi bulying di sukabumi

    Buntut Tragedi Bulying di Sukabumi, Guru dan Siswa Turut Diperiksa

    • calendar_month Senin, 3 Nov 2025
    • account_circle Admin Wartaloka
    • visibility 11
    • 0Komentar

    wartaloka.com, PERISTIWA. Tragedi dugaan bulying di Kabupaten Sukabumi kembali mencuat setelah seorang siswi Madrasah Tsanawiyah (MTs) berinisial A (14) ditemukan meninggal di rumahnya di Kecamatan Cikembar pada Selasa, 28 Oktober 2025. Siswi kelas VIII itu diduga mengalami tekanan sosial di sekolahnya sebelum mengakhiri hidup, sehingga kepolisian kini membuka penyelidikan menyeluruh. Kasatreskrim Polres Sukabumi, Iptu Hartono, […]

  • Belanja Barjas di Bappelitbangda Kota Tasikmalaya Menuai Sorotan

    Belanja Barjas di Bappelitbangda Kota Tasikmalaya Menuai Sorotan

    • calendar_month Rabu, 18 Mar 2026
    • account_circle KangHasan
    • visibility 6
    • 0Komentar

    Wartaloka, BERITA TASIKMALAYA – Pola pengadaan di Bappelitbangda Kota Tasikmalaya menjadi perhatian setelah data yang dibuka ke publik menunjukkan indikasi yang sulit diabaikan. Dari ratusan paket belanja yang dianalisis, muncul tiga pola utama yang dinilai tidak lazim dan memicu pertanyaan terhadap proses pengadaan. Keterbukaan data pengadaan di lingkungan Bappelitbangda Kota Tasikmalaya ini justru membuka babak […]

  • Aktivitas Geng Motor Masih Marak di Jawa Barat, Ini Penjelasan Kapolda

    Aktivitas Geng Motor Masih Marak di Jawa Barat, Ini Penjelasan Kapolda

    • calendar_month Selasa, 6 Jan 2026
    • account_circle KangHasan
    • visibility 5
    • 0Komentar

    Wartaloka, BERITA BANDUNG – Kapolda Jawa Barat Rudi Setiawan mengungkapkan bahwa aktivitas geng motor di wilayah Jawa Barat bukan persoalan baru. Fenomena ini, menurutnya, telah berlangsung menahun dan berulang dari tahun ke tahun dengan pola yang nyaris sama. Faktor ekonomi disebut menjadi salah satu pemicu utama yang membuat aksi geng motor terus muncul di berbagai […]

  • TPS Liar di Dago Disorot, Wali Kota Bandung Ancam Sanksi Pidana

    TPS Liar di Dago Disorot, Wali Kota Bandung Ancam Sanksi Pidana

    • calendar_month Senin, 2 Feb 2026
    • account_circle KangHasan
    • visibility 13
    • 0Komentar

    Wartaloka, BERITA BANDUNG – Tumpukan sampah ilegal di Tempat Pembuangan Sementara (TPS) liar yang muncul di kawasan Kelurahan Dago, Kecamatan Coblong, Kota Bandung, menjadi perhatian serius Pemerintah Kota Bandung. Keberadaan TPS ilegal tersebut dinilai tidak hanya mengganggu kebersihan, tetapi juga berpotensi mengancam keselamatan lingkungan dan warga sekitar. Wali Kota Bandung Muhammad Farhan meninjau langsung lokasi […]

  • SWAKKA Dideklarasikan, Babak Baru Hubungan Media dan Pemerintah di Priangan Timur

    SWAKKA Dideklarasikan, Babak Baru Hubungan Media dan Pemerintah di Priangan Timur

    • calendar_month Kamis, 12 Feb 2026
    • account_circle KangHasan
    • visibility 6
    • 0Komentar

    Wartaloka, BERITA TASIKMALAYA — Deklarasi SWAKKA (Sawala Wartawan dan Konten Kreator Aspiratif) di Grand Metro Hotel Tasikmalaya, Kamis (12/2/2026), menjadi penanda babak baru dalam membangun sinergi media dengan pemerintah di wilayah Priangan Timur. Forum yang dihadiri unsur pemerintah daerah, legislatif, penegak hukum, serta tokoh masyarakat itu tidak sekadar seremoni pembentukan komunitas. Lebih dari itu, kegiatan […]

expand_less