Wibawa Guru Direndahkan: Buah Sistem Pendidikan Sekuler Kapitalistik
- account_circle KangHasan
- calendar_month Kamis, 7 Mei 2026
- visibility 119
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Wartaloka, OPINI –Wibawa guru hari ini bukan sekadar menurun, tetapi perlahan dihancurkan oleh sistem pendidikan yang kehilangan arah. Ketika adab tidak lagi dijadikan fondasi utama dalam pendidikan, maka lahirlah generasi yang berani merendahkan sosok yang seharusnya dihormati. Pendidikan akhirnya hanya berfokus pada capaian akademik, sementara pembentukan akhlak dikesampingkan.
Lunturnya Nilai Adab
Kasus siswa yang melecehkan guru di Purwakarta menjadi tamparan keras bagi dunia pendidikan. Peristiwa ini bukan hanya persoalan kenakalan individu, tetapi cerminan kegagalan sistem dalam menanamkan nilai hormat dan adab kepada peserta didik. Miris ketika seorang guru yang seharusnya dimuliakan justru menjadi bahan candaan, hinaan, bahkan konten demi mencari perhatian di media sosial.
Fenomena ini menunjukkan bahwa pendidikan hari ini lebih banyak melahirkan generasi yang cerdas secara akademik, tetapi lemah dalam akhlak. Di era digital, sebagian anak lebih mengejar eksistensi dan viralitas dibanding menjaga etika. Media sosial sering dijadikan panggung untuk mencari pengakuan, tanpa mempertimbangkan batas sopan santun dan penghormatan kepada guru.
Sanksi memang diperlukan, namun hukuman semata tidak cukup menyelesaikan akar persoalan. Pendekatan yang hanya bersifat administratif atau formal sering kali hanya menyentuh permukaan. Yang dibutuhkan adalah pembinaan yang mampu menumbuhkan empati, tanggung jawab, dan kesadaran akan pentingnya menghormati guru.
Pendidikan Tidak Hanya Mengejar Nilai Akademis
Kondisi ini tidak bisa dilepaskan dari sistem pendidikan sekuler kapitalistik yang memisahkan pendidikan dari nilai agama. Pendidikan diarahkan sekadar mencetak tenaga kerja dan mengejar nilai, bukan membentuk manusia berkepribadian mulia. Akibatnya, ukuran keberhasilan hanya dinilai dari prestasi akademik dan materi, sementara adab dianggap pelengkap.
Padahal dalam Islam, pendidikan tidak hanya bertujuan menambah ilmu, tetapi juga membentuk akhlak dan kepribadian yang baik. Guru memiliki kedudukan yang mulia karena menjadi perantara ilmu. Oleh sebab itu, menghormati guru merupakan bagian dari adab yang harus ditanamkan sejak dini.
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يُوَقِّرْ كَبِيرَنَا
“Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati yang lebih tua…”
(HR. Tirmidzi)
Pendidikan Karakter bukan hanya slogan
Guru termasuk sosok yang wajib dihormati karena jasanya dalam mendidik dan membimbing generasi. Ketika penghormatan kepada guru hilang, maka pendidikan akan kehilangan ruhnya.
Karena itu, pembentukan karakter tidak cukup hanya melalui slogan atau program seremonial. Dibutuhkan sistem pendidikan yang menjadikan akidah dan adab sebagai pondasi utama. Lingkungan keluarga, sekolah, hingga media digital harus bersama-sama menjaga moral generasi agar tidak terbiasa dengan perilaku merendahkan orang lain.
Sudah saatnya pendidikan dikembalikan pada nilai yang benar, bukan sekadar aturan tanpa ruh. Memuliakan guru adalah kunci lahirnya generasi berakhlak. Sebab ketika guru dihormati, ilmu akan lebih mudah diterima, dan keberkahan pendidikan akan terjaga.
Pipih Fitriani – Aktivis Islam/ aktivis muslimah
Parongpong KBB
- Penulis: KangHasan
