Buntut Tragedi Bulying di Sukabumi, Guru dan Siswa Turut Diperiksa
- account_circle Admin Wartaloka
- calendar_month Senin, 3 Nov 2025
- visibility 11
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
wartaloka.com, PERISTIWA. Tragedi dugaan bulying di Kabupaten Sukabumi kembali mencuat setelah seorang siswi Madrasah Tsanawiyah (MTs) berinisial A (14) ditemukan meninggal di rumahnya di Kecamatan Cikembar pada Selasa, 28 Oktober 2025. Siswi kelas VIII itu diduga mengalami tekanan sosial di sekolahnya sebelum mengakhiri hidup, sehingga kepolisian kini membuka penyelidikan menyeluruh.
Kasatreskrim Polres Sukabumi, Iptu Hartono, membenarkan bahwa pihaknya menaruh perhatian serius terhadap dugaan adanya tindakan perundungan yang dialami korban. Dalam keterangannya kepada media, Senin (03/11/2025), Hartono menyebut sejumlah langkah telah dilakukan untuk menguatkan kronologi dan memeriksa kemungkinan unsur bulying dalam kasus tersebut.
Polisi Fokus Telusuri Dugaan Perundungan
Polisi telah memeriksa teman-teman sekelas korban, terutama mereka yang diketahui sering berinteraksi dengan A. Pemeriksaan dilakukan untuk mengungkap apakah korban pernah menerima perlakuan tidak menyenangkan, baik berupa ejekan, pengucilan, maupun tindakan yang bersifat intimidatif.
“Teman-teman korban sudah kami mintai keterangan. Kami mendalami apakah ada interaksi yang mengarah pada perundungan. Informasi dari para saksi ini sangat penting untuk melihat pola hubungan sosial korban di sekolah,” ujar Iptu Hartono.
Dari beberapa keterangan awal, polisi menemukan sejumlah petunjuk yang kini sedang dicocokkan dengan bukti lain, termasuk catatan pribadi korban. Hartono menegaskan bahwa setiap informasi akan diuji kebenarannya sebelum ditetapkan sebagai bagian dari fakta penyelidikan.
Selain memeriksa siswa, beberapa guru yang dianggap mengetahui aktivitas harian korban juga dipanggil. Pemeriksaan dilakukan untuk menelusuri apakah pihak sekolah pernah menerima laporan terkait kondisi psikologis korban atau tanda-tanda adanya konflik dengan teman sebaya.
“Guru-guru kami periksa untuk memastikan sejauh mana mereka mengetahui dinamika di kelas. Apakah pernah ada laporan, teguran, atau insiden sebelumnya. Semua keterangan kami butuhkan untuk melengkapi gambaran besar kasus ini,” jelas Hartono.
Surat Tulisan Tangan Jadi Bukti Penting
Salah satu bukti yang kini menjadi perhatian penyidik adalah sebuah surat tulisan tangan yang ditemukan di dekat korban. Isinya menggambarkan keluhan, tekanan, dan kegalauan yang diduga berkaitan dengan perlakuan yang diterimanya di sekolah. Namun, polisi masih harus memastikan keaslian surat tersebut.
“Kami menemukan surat yang diduga ditulis oleh korban. Isinya mengarah pada keluhan tentang perlakuan yang diterimanya. Saat ini keaslian surat sedang kami uji, termasuk apakah benar ditulis oleh korban sendiri,” kata Hartono.
Ia menegaskan bahwa penyelidikan akan dilakukan secara hati-hati mengingat kasus ini menyangkut anak di bawah umur dan menimbulkan dampak psikologis bagi banyak pihak.
Hartono juga mengingatkan masyarakat untuk tidak berspekulasi atau menyebarkan informasi yang belum dikonfirmasi. “Kami mohon masyarakat tidak mengambil kesimpulan sendiri. Penyelidikan terus berjalan. Jika ada perkembangan penting, akan kami sampaikan secara resmi,” tegasnya.
Kasus bulying di Sukabumi ini memunculkan kembali urgensi pengawasan terhadap lingkungan sekolah dan kesehatan mental siswa. Tragedi ini diharapkan menjadi pengingat bagi sekolah, orang tua, dan komunitas untuk lebih memperhatikan tanda-tanda perundungan dan segera mengambil tindakan preventif agar kasus serupa tidak terulang. (AR)
- Penulis: Admin Wartaloka

Saat ini belum ada komentar