Pemkot Bandung Gas Pol Tangani Sampah, Ajak Warga Bergerak
- account_circle KangHasan
- calendar_month Sabtu, 7 Feb 2026
- visibility 54
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Wartaloka, BERITA BANDUNG – Pemerintah Kota Bandung mulai mengirim pesan yang lebih tegas kepada warganya: persoalan sampah tidak bisa lagi diserahkan sepenuhnya kepada pemerintah. Dengan produksi sampah harian yang menembus angka 1.500 ton, Bandung kini berada di persimpangan antara perubahan sistem pengelolaan atau risiko lingkungan yang semakin besar.
Berdasarkan informasi yang dibagikan melalui akun Instagram resmi @halobandung pada Kamis, 5 Februari 2026, dari total sampah yang dihasilkan setiap hari, baru sekitar 22 persen yang berhasil diolah. Sisanya masih bergantung pada Tempat Pembuangan Akhir (TPA), sebuah pola lama yang dinilai tidak lagi berkelanjutan.
Kondisi ini berpotensi memicu berbagai persoalan serius, mulai dari banjir akibat saluran tersumbat, peningkatan risiko penyakit, hingga pencemaran lingkungan yang berdampak langsung pada kualitas hidup warga kota.
Pemkot Perkuat Sistem, Warga Didorong Berubah
Sebagai respons, Pemkot Bandung mulai memperkuat sistem pengelolaan sampah dari level paling dasar: lingkungan tempat tinggal warga. Salah satu langkah strategis yang kini dijalankan adalah program GAS Lah (Petugas Pemilah dan Pengolah Sampah).
Melalui program ini, sebanyak 1.596 petugas disiapkan dengan skema satu petugas untuk satu RW. Mereka bertugas memastikan pemilahan dan pengolahan sampah berjalan dari rumah tangga, bukan sekadar di ujung pembuangan.
Pendekatan ini menandai pergeseran paradigma pengelolaan sampah di Bandung. Jika sebelumnya sampah dipandang sebagai urusan “angkut dan buang”, kini fokus diarahkan pada pengurangan dan pengolahan sejak dari sumbernya.
Pemkot menekankan bahwa kehadiran petugas bukan untuk menggantikan peran warga, melainkan mendorong perubahan perilaku kolektif agar kebersihan lingkungan menjadi tanggung jawab bersama.
Target 80 Persen, Tanpa Warga Mustahil Tercapai
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, secara terbuka menyampaikan target ambisius pemerintahannya. Kota Bandung ditargetkan meningkatkan tingkat pengolahan sampah dari 22 persen menjadi 80 persen.
Target tersebut, menurut Farhan, tidak akan tercapai jika hanya mengandalkan kebijakan dan petugas lapangan. Partisipasi aktif masyarakat menjadi kunci utama, terutama dalam memilah sampah dari rumah.
“Target kami jelas, bergerak dari 22 persen menuju 80 persen pengolahan sampah. Ini bukan hanya solusi jangka pendek, tapi proyeksi jangka panjang bagi Kota Bandung,” ujar Farhan.
Pemkot Bandung juga menyebut telah belajar dari daerah lain seperti Banyumas, yang dinilai berhasil mengurangi beban TPA melalui sistem pengolahan sampah berbasis masyarakat.
Ajakan Langsung: Pilah Sampah, Jaga Kota
Melalui berbagai kanal komunikasi, Pemkot Bandung kini lebih terbuka mengajak warga untuk terlibat langsung. Pesannya sederhana namun tegas: memilah sampah dari rumah adalah langkah paling realistis untuk menyelamatkan lingkungan kota.
Sampah organik, anorganik, dan residu yang dipilah dengan benar akan memudahkan proses pengolahan dan secara signifikan mengurangi volume sampah yang berakhir di TPA.
Pemkot berharap kolaborasi antara pemerintah, petugas GAS Lah, dan kesadaran warga dapat menciptakan sistem pengelolaan sampah yang lebih transparan, terhubung dari hulu ke hilir, serta berkelanjutan.
Lebih dari sekadar kebijakan, persoalan sampah kini menjadi ujian kepedulian publik. Bandung bersih tidak hanya ditentukan oleh program pemerintah, tetapi oleh kebiasaan warganya sehari-hari. (KH)
- Penulis: KangHasan
