Perang Timur Tengah Meledak, Harga BBM dan Sembako Terancam Naik!
- account_circle KangHasan
- calendar_month Minggu, 1 Mar 2026
- visibility 12
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Wartaloka, INTERNASIONAL – Di saat Indonesia tengah berbenah melalui berbagai program prioritas nasional, situasi global justru bergerak ke arah yang mengkhawatirkan. Dua konflik besar kembali memanaskan peta geopolitik dunia, yakni ketegangan di Asia Selatan antara Afghanistan dan Pakistan, serta eskalasi di kawasan konflik Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Rangkaian serangan balasan dan pernyataan keras dari para pemimpin negara menunjukkan bahwa dinamika ini tidak lagi sebatas perang retorika, melainkan telah memasuki fase yang lebih berisiko dan sulit diprediksi.
Isu konflik Timur Tengah khususnya menjadi sorotan karena kawasan tersebut merupakan pusat energi dunia dan jalur perdagangan strategis. Setiap peningkatan tensi militer berpotensi memicu gangguan distribusi minyak global, mendorong lonjakan harga energi, hingga memperlebar tekanan inflasi di banyak negara. Dampaknya bukan hanya terasa di negara-negara yang terlibat langsung, tetapi juga bisa merambat ke berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia, melalui kenaikan harga BBM, biaya logistik, dan harga kebutuhan pokok di pasar domestik.
Konflik Afghanistan–Pakistan: Bara Panas Garis Durand Kembali Menyala
Ketegangan di sepanjang Garis Durand—perbatasan sepanjang 2.670 km—kembali membara. Garis yang ditetapkan pada 1893 oleh diplomat Inggris, Sir Mortimer Durand, sejak awal menyisakan persoalan karena membelah wilayah etnis Pashtun.
Afghanistan secara historis tidak pernah mengakui Garis Durand sebagai batas permanen. Sebaliknya, Pakistan menganggapnya sebagai garis final kedaulatan. Persoalan klasik ini kembali memuncak setelah serangan udara Pakistan yang diklaim menargetkan kelompok militan, namun dilaporkan menewaskan warga sipil. Taliban membalas dengan operasi militer skala besar di wilayah perbatasan.
Menteri Pertahanan Pakistan, Khawaja Asif, menyatakan bahwa “kesabaran telah mencapai batasnya” dan menyebut situasi sebagai perang terbuka. Di sisi lain, juru bicara Taliban, Zabiullah Mujahid, menyatakan pihaknya tetap membuka pintu dialog, meski operasi militer terus berlangsung.
Paradoks muncul karena Pakistan dahulu mendukung Taliban untuk memperluas pengaruhnya di Kabul. Kini, hubungan keduanya memburuk setelah Pakistan menuduh Taliban melindungi Tehrik-i-Taliban Pakistan (TTP), kelompok yang menyerang keamanan Pakistan sendiri.
Konflik ini berisiko mengganggu stabilitas Asia Selatan, kawasan yang memiliki posisi strategis dalam jalur perdagangan dan konektivitas energi regional.
AS–Israel vs Iran: Ancaman Perang Terbuka dan Krisis Nuklir
Sementara itu, eskalasi konflik di Timur Tengah jauh lebih mengkhawatirkan. Amerika Serikat bersama Israel meluncurkan serangan udara terhadap fasilitas militer dan infrastruktur nuklir Iran. Target utama disebut-sebut adalah fasilitas pengayaan uranium dan instalasi rudal strategis.
Ketegangan ini berakar panjang sejak Revolusi Islam 1979 di Iran yang menggulingkan Shah pro-AS. Hubungan kedua negara memburuk drastis sejak krisis sandera diplomat AS di Teheran. Sejak itu, permusuhan berubah menjadi perang bayangan (proxy war) di berbagai kawasan seperti Yaman, Lebanon, dan Irak.
Puncak ketegangan modern terjadi setelah AS keluar dari perjanjian nuklir Iran (JCPOA) pada 2018. Langkah itu memicu Iran meningkatkan kembali program pengayaan uranium. Kini, setiap serangan langsung berisiko memicu respons militer terbuka dari Teheran.
Iran menegaskan bahwa membalas agresi adalah hak sahnya. Jika konflik ini meluas, Selat Hormuz—jalur vital distribusi minyak dunia—bisa terganggu. Sekitar 20% pasokan minyak global melewati selat ini. Gangguan kecil saja dapat mendorong lonjakan harga minyak mentah secara drastis.
selanjutnya –> Berita Tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran
- Penulis: KangHasan
