3 Pekan Tanpa Jawaban, Pedagang Pasar Cikurubuk Bersiap Gelar Aksi
- account_circle KangHasan
- calendar_month Jumat, 6 Mar 2026
- visibility 54
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Wartaloka, BERITA TASIKMALAYA – Kekecewaan para Pedagang di Pasar Cikurubuk terhadap pemerintah daerah disebut semakin meningkat. Setelah hampir tiga pekan sejak surat resmi disampaikan kepada Wali Kota Tasikmalaya, para pedagang mengaku belum menerima tanggapan dari pemerintah kota.
Situasi tersebut mendorong para pedagang bersama sejumlah elemen masyarakat menyiapkan langkah lanjutan berupa aksi massa yang direncanakan berlangsung pada Senin, 9 Maret 2026.
Aksi tersebut diperkirakan diikuti sekitar 500 orang yang tergabung dalam Forum Masyarakat Peduli Pedagang Pasar Cikurubuk.
Forum itu dipimpin ulama senior Tasikmalaya, KH. Tb. Miftah Fauzi, yang selama ini dikenal aktif menyuarakan aspirasi pedagang pasar tradisional di Kota Tasikmalaya.

Surat HIPPATAS Disebut Belum Mendapat Tanggapan
Sebelumnya, Perkumpulan Himpunan Pedagang Pasar Tasikmalaya (HIPPATAS) telah mengirimkan surat resmi kepada pemerintah daerah pada 13 Februari 2026.
Surat tersebut ditujukan kepada Wali Kota Tasikmalaya serta delapan instansi lainnya, di antaranya DPRD, Polres Tasikmalaya Kota, Kejaksaan Negeri, Kodim, Satpol PP, Dinas Koperasi UKM Perindag, Dinas Perhubungan, serta Dinas Lingkungan Hidup.
Melalui surat itupara pedagang melalui HIPPATAS meminta pemerintah daerah segera mengambil langkah kebijakan terkait berbagai persoalan yang terjadi di Pasar Cikurubuk.
Namun hingga Jumat, 6 Maret 2026, para pedagang menyatakan belum menerima tanggapan resmi.
Bagi sebagian Pedagang , kondisi tersebut memunculkan kesan bahwa aspirasi mereka belum menjadi perhatian serius pemerintah kota.
Forum Peduli Pedagang Pasar Cikurubuk Terbentuk
Merespons situasi tersebut, sejumlah tokoh masyarakat bersama pedagang membentuk Forum Masyarakat Peduli Pedagang Pasar Cikurubuk.
Forum ini menjadi wadah konsolidasi berbagai elemen masyarakat yang menilai persoalan di Pasar Cikurubuk tidak hanya berdampak pada pedagang, tetapi juga pada aktivitas ekonomi masyarakat kecil di Kota Tasikmalaya.
Melalui forum tersebut, rencana aksi massa mulai dipersiapkan sebagai upaya menyampaikan aspirasi para pedagang secara langsung kepada pemerintah daerah.
Para pedagang berharap pemerintah kota membuka ruang dialog agar solusi atas berbagai persoalan di pasar dapat segera ditemukan.
Konfirmasi ke Pimpinan Forum
Redaksi mencoba mengonfirmasi rencana aksi tersebut dengan mendatangi kediaman KH. Tb. Miftah Fauzi di Tasikmalaya.
Namun berdasarkan informasi yang diperoleh di lokasi, ulama yang menjadi Ketua Forum Masyarakat Peduli Pedagang Pasar Cikurubuk itu sedang tidak berada di rumah.
Disebutkan bahwa KH Miftah Fauzi tengah memenuhi undangan sebagai penceramah dari Bupati Tangerang.
Meski demikian, sejumlah Pedagang yang ditemui di area pasar membenarkan adanya rencana aksi tersebut.
Pedagang: Aksi Dilakukan Karena Aspirasi Tak Dijawab
Beberapa pedagang menyatakan rencana aksi massa tersebut muncul setelah berbagai upaya komunikasi dinilai tidak membuahkan respons.
Salah seorang pedagang mengatakan sebelumnya mereka berharap pemerintah kota segera memberikan tanggapan atas surat yang telah dikirimkan HIPPATAS.
Namun karena belum ada jawaban hingga kini, para Pedagang akhirnya mempersiapkan langkah aksi.
Menurutnya, aksi tersebut bukan dimaksudkan untuk menciptakan konflik, melainkan agar suara pedagang dapat didengar oleh pemerintah daerah.
Pedagang: Pasar Cikurubuk Sumber Nafkah Ribuan Keluarga
Seorang pedagang yang telah lama berjualan di Pasar Cikurubuk mengatakan rencana aksi lahir dari rasa kecewa para pedagang.
Ia menyebut para pedagang sebenarnya telah menempuh jalur komunikasi resmi dengan mengirimkan surat kepada pemerintah kota sejak pertengahan Februari.
“Surat resmi sudah dikirim sejak pertengahan Februari, tapi sampai sekarang belum ada jawaban,” ujarnya.
Ia berharap pemerintah daerah segera membuka komunikasi agar persoalan di pasar tidak terus berlarut.
“Kalau pemerintah memilih diam, jangan salahkan jika pedagang akhirnya bersuara lebih keras. Kami hanya ingin didengar,” katanya.
Bagi para pedagang, pasar tersebut bukan sekadar tempat berdagang, tetapi menjadi sumber penghidupan bagi ribuan keluarga di Tasikmalaya.
“Pasar ini tempat kami mencari nafkah. Kalau aspirasi tidak dijawab, lalu kami harus menyampaikan keluhan ke siapa lagi?” ujarnya (KH)
- Penulis: KangHasan
