Dollar Tembus Rp18.000, Rakyat Butuh Solusi Bukan Sekadar Motivasi
- account_circle KangHasan
- calendar_month Minggu, 7 Jun 2026
- visibility 191
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Wartaloka, OPINI – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali menjadi perhatian publik setelah menyentuh angka Rp18.000 per dolar AS. Kenaikan kurs dollar ini memunculkan kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi Indonesia, mulai dari harga kebutuhan pokok, biaya produksi, hingga daya beli masyarakat yang berpotensi semakin tertekan.
Di tengah kekhawatiran masyarakat terhadap kondisi ini, pemerintah menyatakan fundamental ekonomi Indonesia masih kuat (DetikNews, 5 Juni 2026).
Di saat yang sama, beredar pula berbagai nasihat yang mengajak masyarakat untuk tetap tenang. Salah satunya adalah pernyataan yang kurang lebih berbunyi,
“Tidak perlu khawatir, Allah akan memberikan rezeki meskipun dolar mencapai Rp18.000.”
Sebagai muslim, tentu kita meyakini bahwa Allah SWT adalah Ar-Razzaq, Dzat Yang Maha Memberi Rezeki. Tidak ada satu makhluk pun yang luput dari jaminan rezeki-Nya.
Namun, keyakinan tersebut seharusnya tidak membuat kita berhenti bertanya mengapa kondisi ekonomi terus membebani rakyat. Jangan sampai nasihat yang semestinya menguatkan justru membuat umat terbiasa menerima kesulitan tanpa berupaya mencari akar masalahnya.
Kurs Rupiah Melemah adalah Fakta
Fakta menunjukkan bahwa pelemahan rupiah bukan sekadar angka di layar monitor. Ketika nilai tukar melemah, biaya impor meningkat, harga berbagai kebutuhan berpotensi naik, termasuk bahan baku industri dan obat-obatan. Bahkan sejumlah pihak telah mengingatkan adanya potensi kenaikan harga obat sebagai dampak melemahnya rupiah (DetikNews, 6 Juni 2026).
Sayangnya, ketika kondisi seperti ini terjadi, rakyat sering kali hanya diminta bersabar, berhemat, dan menyesuaikan diri. Seolah-olah persoalannya terletak pada kemampuan rakyat untuk bertahan, bukan pada sistem yang terus melahirkan persoalan yang sama dari waktu ke waktu.
Padahal Islam tidak mengajarkan sabar yang pasif. Sabar dalam Islam bukan berarti diam melihat kerusakan, lalu menganggap semua akan selesai dengan sendirinya. Allah SWT berfirman:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia…” (QS. Ar-Rum: 41).
Ayat ini mengajarkan bahwa ketika muncul kerusakan, manusia diperintahkan untuk menyadari penyebabnya dan memperbaikinya, bukan sekadar menerima akibatnya.
Islam juga menempatkan penguasa sebagai pengurus urusan rakyat. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Imam adalah pemelihara dan pengatur urusan rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang diurusnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Karena itu, ketika rakyat menghadapi tekanan ekonomi, solusi yang dibutuhkan tidak cukup berupa motivasi agar tetap kuat dan optimis. Yang lebih dibutuhkan adalah kebijakan dan sistem yang benar-benar mampu melindungi kehidupan mereka.
Tawakal Bukan Pembiaran
Di sinilah pentingnya membedakan antara tawakal dan pembiaran. Tawakal adalah bersandar kepada Allah setelah melakukan ikhtiar terbaik. Adapun pembiaran adalah menerima kerusakan tanpa berusaha mengubahnya. Keduanya jelas berbeda.
Islam tidak hanya mengajarkan umat untuk bersabar menghadapi kesulitan, tetapi juga menghadirkan seperangkat aturan yang mengatur kehidupan secara menyeluruh.
Karena itu, ketika krisis ekonomi terus berulang, Islam tidak memandangnya sekadar sebagai persoalan teknis yang cukup diselesaikan dengan tambal sulam kebijakan. Persoalan ini berkaitan dengan sistem yang menjadi landasan pengaturan ekonomi negara.
Dampak Sistem Ekonomi Kapitalisme
Hari ini, negeri-negeri muslim, termasuk Indonesia, masih menerapkan sistem ekonomi kapitalisme yang menjadikan keuntungan sebagai orientasi utama, membuka ruang bagi praktik ribawi, serta membuat perekonomian rentan terhadap gejolak global.
Akibatnya, ketika nilai tukar dolar menguat, rakyat kembali menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya.
Berbeda dengan kapitalisme, Islam memiliki sistem ekonomi yang bersumber dari wahyu. Islam mengharamkan riba, mewajibkan negara mengelola sumber daya alam untuk kepentingan rakyat, menjamin pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat, serta mengatur distribusi kekayaan agar tidak beredar di kalangan tertentu saja.
Dalam Islam, negara bukan sekadar regulator, melainkan pengurus yang bertanggung jawab penuh terhadap kesejahteraan rakyatnya.
Karena itu, ketika dolar menembus Rp18.000, umat tidak cukup diajak untuk tetap tenang dan bersabar. Umat juga perlu diajak melihat akar persoalan yang sesungguhnya.
Sebab kesulitan yang terus berulang tidak akan selesai hanya dengan motivasi, sementara sistem yang melahirkannya tetap dipertahankan.
Penerapan Islam dalam Aspek Kehidupan
Allah SWT memang menjamin rezeki setiap hamba-Nya. Namun Allah juga menurunkan syariat sebagai pedoman mengatur kehidupan.
Di tengah meningkatnya perhatian masyarakat terhadap kurs dollar hari ini dan melemahnya nilai tukar rupiah, pertanyaan yang terus muncul adalah apakah persoalan ekonomi yang berulang ini hanya akan dihadapi dengan imbauan untuk bersabar, ataukah akan disertai solusi yang mampu menyentuh akar masalahnya.
Maka solusi hakiki bukan hanya menguatkan mental rakyat agar mampu bertahan dalam kesulitan, melainkan menghadirkan penerapan Islam secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan, termasuk dalam pengelolaan ekonomi dan urusan rakyat.
Dengan itulah kesabaran tidak berubah menjadi kepasrahan, tetapi menjadi energi untuk memperjuangkan perubahan yang diridhai Allah SWT. (vs/kh)
Penulis: Vera Selpia – Parongpong KBB
Pendidik
- Penulis: KangHasan
