Pantai Talanca penuh Sampah Kain, Citra Wisata Sukabumi Dipertaruhkan
- account_circle KangHasan
- calendar_month Kamis, 8 Jan 2026
- visibility 8
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Wartaloka, BERITA SUKABUMI – Pantai Talanca yang berada di Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi, kembali menjadi sorotan publik. Kawasan wisata pesisir yang sempat viral beberapa tahun lalu itu lagi-lagi dipenuhi tumpukan sampah kain yang berserakan di sepanjang garis pantai.
Pantai Talanca, yang terletak di Desa Loji, sebelumnya pernah masuk daftar pantai terkotor di Indonesia versi Pandawara Group. Saat itu, Pantai Talanca bersama Pantai Cibutun di Desa Sangrawayang disebut berada di peringkat keempat akibat gunungan sampah yang mencemari pesisir. Aksi bersih-bersih besar-besaran sempat dilakukan pada 2023 dengan melibatkan ribuan orang dan diinisiasi oleh TNI AD.
Sampah Kain Kembali Muncul di Pesisir
Pantauan di lapangan menunjukkan, potongan kain bekas kembali mendominasi jenis sampah yang mengotori Pantai Talanca. Sampah tersebut terlihat menumpuk dan menyebar di area pesisir, menciptakan pemandangan yang kontras dengan potensi keindahan alam pantai selatan Sukabumi.
Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sukabumi, Ali Iskandar, menegaskan bahwa persoalan sampah kain tidak bisa dianggap sepele. Menurutnya, masalah ini bukan hanya soal kebersihan, tetapi juga menyangkut citra pariwisata daerah dan kesehatan lingkungan.
Ia menyampaikan bahwa pihaknya telah menginstruksikan jajaran terkait untuk turun langsung ke lapangan melakukan pemantauan dan pembersihan. Hasil pengecekan menunjukkan bahwa sampah kain masih menjadi jenis sampah yang paling dominan dan sulit ditangani.
Sumber Sampah Masih Jadi Teka-teki
Fenomena sampah kain di Pantai Talanca bukan kejadian baru. Pada 2023 lalu, pemerintah daerah sempat melakukan penelusuran menyusuri aliran Sungai Cimandiri untuk mencari sumber sampah yang diduga hanyut ke laut. Namun hingga kini, asal-usul tumpukan kain tersebut belum terungkap secara jelas.
Ali Iskandar menyebut, upaya penelusuran sebelumnya belum membuahkan hasil yang pasti. Karena itu, Dinas Pariwisata berencana melengkapi data terbaru di lapangan dan membandingkannya dengan kejadian serupa di masa lalu. Hasil kajian tersebut akan dilaporkan kepada pimpinan daerah untuk menentukan langkah lanjutan.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor. Menurutnya, penanganan sampah kain membutuhkan keterlibatan Dinas Lingkungan Hidup, aparat TNI, Polri, serta dukungan masyarakat dan pelaku usaha.
Harga Diri Daerah Wisata
Ali menegaskan bahwa persoalan sampah tidak boleh berlarut-larut. Ia menilai kebersihan pantai merupakan bagian dari harga diri daerah wisata. Jika dibiarkan, masalah ini berpotensi merusak kepercayaan wisatawan dan berdampak langsung pada perekonomian masyarakat pesisir.
– “kabersihan téh cerminan budi pekerti, “Lamun alam diraksa babarengan, mangpaatna bakal karasa ku sadayana.” (KH)
- Penulis: KangHasan
