OTT UNSOED: Sebuah Ironi Perguruan Tinggi di Negeri Ini
- account_circle KangHasan
- calendar_month Minggu, 23 Agt 2026
- visibility 75
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Wartaloka, OPINI – Ada sesuatu yang terasa getir dari kabar OTT UNSOED.
Perguruan tinggi semestinya menjadi tempat manusia belajar mencari kebenaran. Tempat nalar diasah, integritas dibangun, dan masa depan generasi muda dipersiapkan.
Tetapi kini, Universitas Jenderal Soedirman atau Unsoed justru menjadi sorotan setelah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan operasi tangkap tangan terkait dugaan korupsi dalam penerimaan mahasiswa baru.
KPK melakukan OTT pada Kamis, 20 Agustus 2026. Sebanyak 14 orang diamankan, sebelum kemudian enam orang ditetapkan sebagai tersangka, termasuk Rektor Unsoed Akhmad Sodiq. Perkara tersebut berkaitan dengan dugaan pemerasan dan gratifikasi dalam penerimaan mahasiswa baru jalur mandiri.
Tentu, semua dugaan tersebut masih harus dibuktikan melalui proses hukum. Para tersangka tetap memiliki hak untuk membela diri dan asas praduga tak bersalah harus dihormati.
Namun, bagi dunia pendidikan, OTT UNSOED bukan sekadar perkara hukum.
Ia adalah sebuah pertanyaan besar tentang ke mana arah perguruan tinggi kita.
Ketika Kursi Kuliah Diduga Menjadi Komoditas
Bayangkan seorang anak dari keluarga sederhana.
Bertahun-tahun ia belajar. Pagi berangkat sekolah, malam membuka buku. Ketika teman-temannya bermain, ia mungkin memilih mengerjakan soal.
Ia belajar karena percaya satu hal: pendidikan bisa mengubah hidup.
Kemudian tibalah hari ketika ia mencoba masuk perguruan tinggi.
Ia berharap nilai, kemampuan, kerja keras, dan prestasinya menjadi jalan menuju bangku kuliah.
Tetapi bagaimana jika di balik pintu masuk itu terdapat praktik transaksional?
Bagaimana jika kursi yang seharusnya diperebutkan melalui mekanisme yang adil justru diduga memiliki harga?
Pertanyaan semacam inilah yang membuat kasus OTT UNSOED terasa jauh lebih menyakitkan daripada sekadar angka uang yang disita KPK.
Sebab yang dipertaruhkan bukan hanya rupiah.
Yang dipertaruhkan adalah mimpi.
Di Luar Kampus, Ada Ratusan Ribu yang Terpaksa Berhenti
Pada 2025, tercatat 289.670 mahasiswa di Indonesia putus kuliah. Angka tersebut meningkat 2,62 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sebanyak 239.155 di antaranya merupakan mahasiswa program sarjana.
Memang, angka putus kuliah tidak seluruhnya disebabkan oleh biaya. Ada persoalan akademik, salah memilih program studi, persoalan keluarga, hingga faktor lainnya.
Namun, persoalan ekonomi tetap menjadi bagian penting dari problem akses pendidikan tinggi.
Dan di sinilah ironi itu terasa.
Di satu sisi, begitu banyak anak bangsa berjuang agar bisa tetap duduk di bangku kuliah.
Di sisi lain, publik justru menyaksikan kasus dugaan korupsi yang berkaitan dengan penerimaan mahasiswa baru.
Seolah ada dua dunia yang berdiri berseberangan.
Di satu sisi ada anak yang menghitung uang semester demi semester.
Ada orang tua yang bekerja lebih keras agar anaknya tidak berhenti kuliah.
Ada keluarga yang harus memilih antara membayar biaya pendidikan atau memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Dan mungkin ada anak yang akhirnya berkata kepada dirinya sendiri:
“Mungkin kuliah memang bukan untuk saya.”
Kalimat itu sederhana.
Tetapi bagi seorang anak yang telah bertahun-tahun menyimpan cita-cita menjadi dokter, guru, insinyur, dosen, atau profesi lainnya, kalimat tersebut bisa menjadi pemakaman sebuah mimpi.
Perguruan Tinggi Seharusnya Menjadi Jalan Keluar
Kampus seharusnya hadir sebagai jalan keluar dari keterbatasan, bukan memperlebar jurang ketidakadilan.
Perguruan tinggi seharusnya menjadi tempat di mana anak seorang buruh memiliki kesempatan yang sama dengan anak seorang pejabat.
Anak petani memiliki kesempatan yang sama dengan anak pengusaha.
Yang menentukan adalah kemampuan, prestasi, dan proses seleksi yang adil.
Bukan siapa yang memiliki akses.
Bukan siapa yang mengenal siapa.
Dan tentu bukan siapa yang mampu membayar lebih besar.
Karena pendidikan bukan sekadar transaksi.
Pendidikan adalah investasi peradaban.
Ketika akses terhadap pendidikan mulai kehilangan prinsip keadilan, maka yang rusak bukan hanya sistem penerimaan mahasiswa.
Yang ikut rusak adalah kepercayaan masyarakat terhadap institusi pendidikan.
OTT UNSOED Bukan Kasus yang Bisa Dianggap Sepele
Kasus Unsoed juga tidak muncul dalam ruang yang sepenuhnya kosong.
Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah perkara korupsi telah menyeret individu di lingkungan perguruan tinggi. Ada perkara terkait dana pendidikan, penerimaan mahasiswa, hingga pengadaan.
Artinya, persoalan integritas di perguruan tinggi perlu dilihat lebih serius.
Bukan dengan menganggap seluruh kampus buruk.
Sama sekali bukan.
- Masih ada ribuan dosen yang mengajar dengan penuh dedikasi.
- Masih ada mahasiswa yang belajar dengan sungguh-sungguh.
- Masih banyak pimpinan perguruan tinggi yang menjaga amanah.
Tetapi justru karena mayoritas insan akademik masih menjaga kehormatan kampus, setiap kasus korupsi harus menjadi alarm keras.
Jangan sampai oknum merusak marwah seluruh institusi.
Kampus Bukan Tempat Mengejar Kekuasaan dan Uang
Ada sesuatu yang seharusnya selalu diingat oleh siapa pun yang mendapatkan amanah memimpin perguruan tinggi.
Jabatan rektor bukan sekadar jabatan administratif.
Ia adalah amanah.
Begitu pula jabatan wakil rektor, kepala biro, pejabat akademik, maupun posisi lainnya.
Mereka memegang sebagian masa depan mahasiswa.
Mereka mengelola institusi yang dibangun dengan kepercayaan publik.
Karena itu, ketika kewenangan di bidang pendidikan diduga disalahgunakan untuk memperoleh keuntungan pribadi, dampaknya jauh lebih luas daripada kerugian materi.
Ia mengajarkan pesan yang sangat buruk kepada generasi muda:
Bahwa integritas bisa dikalahkan oleh uang.
Dan jika pesan seperti itu sampai tertanam di kepala mahasiswa, maka perguruan tinggi sedang gagal menjalankan salah satu fungsi terpentingnya: membangun karakter.
Jangan Sampai Kampus Kehilangan Kedigdayaannya
Perguruan tinggi dulu begitu didamba.
Menjadi mahasiswa adalah kebanggaan.
Mengenakan jaket almamater adalah kebahagiaan.
Mendapat gelar sarjana adalah simbol perjuangan.
Kampus dianggap sebagai tempat orang-orang terbaik bangsa berkumpul untuk mencari ilmu dan menemukan jawaban atas persoalan masyarakat.
Kampus adalah mercusuar.
Tempat ilmu pengetahuan menerangi jalan bangsa.
Tetapi ketika kasus demi kasus mulai muncul, cahaya itu perlahan terlihat redup.
Perguruan tinggi yang dulu begitu didamba dan digdaya, dengan rentetan kasus ini jadi terlihat buram, luntur kedigdayaannya.
Sekali lagi, bukan karena seluruh perguruan tinggi buruk.
Tetapi karena sebuah institusi pendidikan memiliki standar moral yang seharusnya jauh lebih tinggi.
Jika sebuah lembaga pendidikan kehilangan integritas, maka kerusakannya tidak berhenti pada institusi.
Ia bisa merembet kepada generasi yang dididiknya.
Jangan Sampai Kursi Kuliah Hanya Milik Mereka yang Punya Uang
Negara memang terus berupaya memperluas akses pendidikan tinggi, termasuk melalui berbagai program bantuan dan beasiswa.
Tetapi akses tidak hanya soal menyediakan kursi.
Akses juga berarti memastikan kursi tersebut diperoleh melalui proses yang adil.
Sebab apa artinya menyediakan pendidikan bagi masyarakat jika pintunya justru dapat dipengaruhi oleh kepentingan tertentu?
Apa artinya kita berbicara tentang Indonesia Emas 2045 jika anak-anak yang memiliki potensi besar justru tersingkir karena biaya?
Dan apa artinya kampus berbicara tentang integritas jika orang yang berada di dalamnya justru tersandung dugaan penyalahgunaan kewenangan?
Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin terasa pahit.
Tetapi pendidikan memang membutuhkan keberanian untuk mengajukan pertanyaan yang tidak nyaman.
OTT UNSOED Harus Menjadi Momentum Berbenah
Pada akhirnya, OTT UNSOED seharusnya tidak berhenti sebagai berita tentang siapa yang ditangkap, berapa uang yang disita, atau berapa orang yang menjadi tersangka.
Lebih jauh, kasus ini harus menjadi momentum untuk melakukan pembenahan.
Sistem penerimaan mahasiswa harus semakin transparan.
Pengawasan harus diperkuat.
Konflik kepentingan harus dicegah.
Kanal pengaduan mahasiswa harus benar-benar aman.
Dan setiap orang yang menerima amanah di perguruan tinggi harus memahami bahwa jabatan bukan kesempatan untuk memperkaya diri.
Ada jutaan anak Indonesia yang masih menggantungkan masa depannya kepada pendidikan.
Mereka tidak meminta sesuatu yang berlebihan.
Mereka hanya ingin kesempatan yang adil.
Mereka ingin masuk kampus melalui kemampuan dan kerja keras.
Mereka ingin percaya bahwa ilmu masih memiliki harga yang lebih tinggi daripada uang.
Karena itu, jangan biarkan OTT UNSOED hanya menjadi satu lagi catatan dalam daftar panjang perkara korupsi.
Jadikan ia alarm.
Jadikan ia momentum.
Dan jadikan ia pengingat bahwa kampus seharusnya menjadi tempat di mana masa depan bangsa dibangun, bukan tempat di mana masa depan itu diperjualbelikan.
Sebab ketika sebuah bangsa kehilangan kepercayaan terhadap pendidikannya, yang sebenarnya sedang dipertaruhkan bukan hanya masa depan perguruan tinggi.
Yang dipertaruhkan adalah masa depan bangsa itu sendiri. (kh)
- Penulis: KangHasan
