Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita » Bukan Satu Anak: Fakta Baru Fenomena Pengemis di Tasikmalaya

Bukan Satu Anak: Fakta Baru Fenomena Pengemis di Tasikmalaya

  • account_circle KangHasan
  • calendar_month Sabtu, 28 Feb 2026
  • visibility 187
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Di Balik Satu Peristiwa, Tersimpan Realitas yang Lebih Besar

Kunjungan tersebut juga membuka fakta lain yang tak kalah memprihatinkan. Menurut keterangan Ketua RW 05, Pak Yogi, praktik anak-anak mengemis atau mencari uang di malam hari bukan hanya terjadi pada Ns..

Di lingkungan tersebut, diperkirakan ada sekitar tujuh anak seusianya yang mulai terbiasa turun ke jalan. Bahkan, beberapa di antaranya lebih memilih mencari uang daripada bersekolah.

Fenomena ini menunjukkan bahwa persoalan yang terjadi bukan semata soal satu keluarga, melainkan gejala sosial yang lebih luas. Ada pola yang berulang, bahkan cenderung menjadi “kebiasaan” di sebagian warga.

Ironisnya, dalam beberapa kasus, terdapat orang tua yang mendorong anaknya ikut mencari uang. Meski demikian, dalam keluarga Ns sendiri, ayah tirinya disebut sangat mendukung agar anak-anak tetap bersekolah.

Menanggapi fenomena ini, Yuni Widiawati, S.I.P., M.I.P seorang aktivis perempuan serta buruh di Tasikmalaya, mengungkapkan kejadian anak SD yang diduga dipaksa mengemis setiap malam ini bukan hanya persoalan keluarga, tapi persoalan negara dan sistem perlindungan sosial kita.

Kalau benar anak-anak tersebut dipaksa dan bahkan diantar ke lokasi untuk mengemis, maka itu berpotensi melanggar Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014, Pasal 76 ditegaskan bahwa setiap orang dilarang menyuruh atau membiarkan anak dieksploitasi secara ekonomi. Anak berhak tumbuh, belajar, dan dilindungi, bukan dijadikan alat untuk mencari nafkah.

Tapi saya juga ingin menekankan, kasus seperti ini tidak boleh berhenti pada menyalahkan ibu semata. Kita perlu bertanya: di mana peran pemerintah? Apakah keluarga ini sudah terdata sebagai keluarga rentan? Apakah sudah mendapat bantuan sosial? Apakah ada pendampingan bagi perempuan kepala keluarga yang kehilangan sumber nafkah?

Pemerintah daerah harus segera turun tangan melalui dinas sosial untuk melakukan asesmen menyeluruh. Anak-anak harus dipastikan tetap sekolah dan mendapatkan perlindungan psikologis. Jika ada unsur eksploitasi, tentu proses hukum harus berjalan.

Bersamaan dengan hal tersebut, ibunya juga perlu didampingi secara ekonomi agar tidak terjebak dalam siklus kemiskinan yang sama.

Kasus ini menjadi cermin bahwa perlindungan anak tidak cukup hanya dengan aturan hukum. Perlu sistem jaminan sosial yang responsif, pendataan yang akurat, dan keberpihakan anggaran pada keluarga rentan. Jangan sampai anak-anak menjadi korban karena pemerintah terlambat hadir.

Sebagai bagian dari masyarakat sipil dan akademisi, tentu siap mendorong kolaborasi agar kasus seperti ini tidak terulang lagi, demikian ungkap Yuni kepada redaksi.

Observasi Pasca Kejadian

Ada fakta lain yang terungkap semalam. Selepas salat tarawih, redaksi bersama sejumlah rekan media lainnya yang tergabung dalam komunitas SWAKKA (Sawala Wartawan dan Konten Kreator Aspiratif) melakukan observasi di lokasi yang sama—tempat pertama kali redaksi bertemu dengan Ns—sebuah fakta mencolok ditemukan. Tidak satu pun pengemis anak terlihat lagi, berbeda dengan hari-hari sebelumnya ketika mereka silih berganti meminta belas kasihan dari pengunjung rumah makan di seberang masjid tersebut.

Dugaan dan pertanyaan yang timbul di benak kami, apakah mereka yang biasa beroperasional dimalam hari ini terkoneksi atau berkelompok bahkan mungkin sudah terkoordinir. Ini tentu menjadi tugas selanjutnya bagi semua pihak terutama Pemerintah Kota Tasikmalaya melalui OPD-OPD terkait untuk dapat menelusuri lebih dalam mengenai temuan ini.


Antara Empati dan Kebijakan Nyata

Kasus Ns membuktikan bahwa sorotan media mampu memicu respons cepat. Namun pekerjaan rumah sebenarnya baru dimulai.

Kemiskinan di Kota Tasikmalaya tidak cukup ditangani dengan bantuan sesaat atau respons reaktif setelah viral. Diperlukan:

  • Pendataan ulang keluarga rentan
  • Penguatan pengawasan lingkungan
  • Edukasi kepada orang tua tentang pentingnya pendidikan
  • Sinergi antara pemerintah, sekolah, dan masyarakat

Momentum Ramadhan seharusnya menjadi refleksi bersama. Di kota yang dikenal religius, tak seharusnya anak-anak usia sekolah berdiri di trotoar saat malam hari demi recehan.


Jangan Berhenti di Sini

Kisah ini bukan lagi sekadar cerita tentang siswi ranking dua yang mengemis. Ia telah membuka tabir persoalan yang lebih dalam: celah dalam sistem bantuan sosial, kebiasaan sosial yang terlanjur terbentuk, dan lemahnya pengawasan terhadap anak usia sekolah.

Pertanyaannya kini bukan lagi “siapa yang salah”, melainkan “apa yang akan dilakukan bersama?”

Jika kunjungan Camat, kehadiran Babinkamtibmas, dan tinjauan langsung pejabat dari kelurahan setempat serta keterlibatan pengurus RW menjadi awal perbaikan, maka publik tentu berharap ada realisasi nyata dalam waktu dekat—mulai dari akses bantuan sosial hingga jaminan agar anak-anak tetap berada di bangku sekolah.

Karena kemajuan Kota Tasikmalaya tidak hanya diukur dari pembangunan fisik, tetapi dari keberpihakannya pada masa depan anak-anaknya.

Dan kini, ujian itu benar-benar ada di depan mata. (KH)

  • Penulis: KangHasan

Rekomendasi Untuk Anda

  • penangkapan pengedar sabu sukabumi

    Penangkapan Pengedar Sabu Sukabumi: Polisi Bongkar Jaringan Narkoba

    • calendar_month Sabtu, 8 Nov 2025
    • account_circle Admin Wartaloka
    • visibility 136
    • 0Komentar

    wartaloka.com, BERITA. Penangkapan pengedar sabu Sukabumi kembali menunjukkan keseriusan aparat dalam menindak jaringan peredaran narkotika di wilayah hukum Polres Sukabumi Kota. Dalam dua aksi berbeda, tim Satuan Reserse Narkoba (Satresnarkoba) berhasil membekuk tiga orang yang diduga kuat terlibat dalam jaringan pengedar sabu lintas kecamatan. Kapolres Sukabumi Kota AKBP Rita Suwadi melalui Kasat Narkoba AKP Tenda […]

  • Bobibos, Kemana? Inovasi Ini Justru Menghilang

    Bobibos, Kemana? Inovasi Ini Justru Menghilang

    • calendar_month Senin, 30 Mar 2026
    • account_circle KangHasan
    • visibility 288
    • 0Komentar

    Wartaloka, OPINI – Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, dunia kembali dihadapkan pada ancaman krisis minyak mentah. Harga BBM global melonjak, rantai pasok terganggu, dan banyak negara mulai waspada terhadap ketergantungan energi fosil. Indonesia, sebagai negara yang masih mengimpor sebagian kebutuhan BBM, tentu tidak kebal dari dampak ini. Namun di saat genting […]

  • Sanksi Komdis Persib Ramai Dibahas-wartaloka

    Sanksi Komdis Persib Ramai Dibahas, Ini Informasi yang Beredar

    • calendar_month Rabu, 20 Mei 2026
    • account_circle KangHasan
    • visibility 131
    • 0Komentar

    Persib dikabarkan kena sanksi Komdis PSSI jelang lawan Persijap. Ini informasi yang beredar.

  • Pergeseran Tanah Bantargadung: Lereng Gundul Jadi Sorotan

    Pergeseran Tanah Bantargadung: Lereng Gundul Jadi Sorotan

    • calendar_month Selasa, 3 Mar 2026
    • account_circle KangHasan
    • visibility 144
    • 0Komentar

    Wartaloka, BERITA SUKABUMI — Bencana kembali terjadi di wilayah selatan Kabupaten Sukabumi. Ratusan warga Kampung Cijambe, Desa Bantargadung, Kecamatan Bantargadung, terpaksa meninggalkan rumah mereka setelah pergeseran tanah dipicu hujan ekstrem melanda kawasan tersebut, Senin (02/03/2026). Sedikitnya 104 Kepala Keluarga (KK) atau 324 jiwa kini bertahan di tenda darurat. Kejadian yang terjadi secara bertahap itu membuat […]

  • Perayaan Cap Go Meh di Ciamis Berlangsung Khidmat

    Perayaan Cap Go Meh di Ciamis Berlangsung Khidmat

    • calendar_month Rabu, 4 Mar 2026
    • account_circle KangHasan
    • visibility 146
    • 0Komentar

    Wartaloka, BERITA CIAMIS – Pesan Toleransi Menguat Perayaan Cap Go Meh di Kelenteng Hok Tek Bio berlangsung khidmat dan penuh warna. Ratusan umat dan warga sekitar memadati halaman kelenteng yang berada di pusat Kota Ciamis itu untuk mengikuti rangkaian ibadah dan tradisi budaya yang menjadi penutup perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili. Sejak pagi, suasana […]

  • Pihak RSUD Jampangkulon Akhirnya Mulai Buka Suara

    Pihak RSUD Jampangkulon Akhirnya Mulai Buka Suara

    • calendar_month Selasa, 24 Feb 2026
    • account_circle KangHasan
    • visibility 145
    • 0Komentar

    Wartaloka, BERITA SUKABUMI – Kasus meninggalnya NS (12), remaja asal Kecamatan Jampangkulon yang viral di media sosial karena diduga menjadi korban kekerasan, kini mulai menemukan titik terang dari sisi medis. Pihak RSUD Jampangkulon akhirnya memberikan penjelasan resmi terkait kondisi korban sebelum dinyatakan meninggal dunia. Penjelasan medis ini penting untuk meluruskan berbagai spekulasi yang beredar di […]

expand_less