Krisis Mental Generasi Muda: Buah Pahit Sekularisme di Era Digital
- account_circle KangHasan
- calendar_month 13 jam yang lalu
- visibility 16
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Sekularisme dan Hilangnya Makna Hidup
Menurut pandangan penulis, akar persoalan tersebut terletak pada sekularisme, yaitu paham yang memisahkan agama dari kehidupan.
Dalam sistem sekuler, agama lebih banyak ditempatkan sebagai urusan pribadi, sementara berbagai aspek kehidupan diatur berdasarkan pemikiran manusia. Akibatnya, standar halal dan haram perlahan tergeser oleh ukuran kebebasan, manfaat, dan kesenangan.
Kondisi tersebut tidak hanya melahirkan aturan yang menjauhkan agama dari kehidupan publik, tetapi juga melahirkan generasi yang kehilangan makna hidup. Ketika manusia tidak lagi memahami tujuan keberadaannya, maka kegelisahan, kecemasan, dan kehampaan menjadi sesuatu yang sulit dihindari.
Padahal Islam telah menjelaskan tujuan hidup manusia dengan sangat jelas. Allah SWT berfirman:
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat: 56)
Ayat tersebut memberikan pemahaman bahwa manusia memiliki tujuan penciptaan yang pasti. Ketika seorang muslim memahami tujuan hidupnya, ia akan memiliki arah yang jelas dan tidak mudah terombang-ambing oleh tekanan kehidupan.
Kebahagiaan tidak lagi bergantung pada pengakuan manusia atau pencapaian duniawi semata, tetapi pada upaya meraih ridha Allah SWT.
Solusi Krisis Mental Generasi Muda Menurut Islam
Mengatasi kesehatan mental remaja yang semakin mengkhawatirkan tidak cukup hanya melalui seminar parenting, literasi digital, atau layanan konseling. Berbagai upaya tersebut penting, tetapi belum sepenuhnya menyentuh akar persoalan.
Islam menawarkan solusi yang lebih mendasar melalui penerapan ajaran Islam secara menyeluruh dalam kehidupan.
Keluarga memiliki peran penting dalam menanamkan akidah Islam sejak dini serta membentuk kepribadian Islam pada anak. Di sisi lain, masyarakat berperan menciptakan lingkungan yang mendukung ketakwaan melalui budaya amar makruf nahi mungkar.
Adapun negara memiliki tanggung jawab yang sangat besar dalam menjaga generasi. Dalam Islam, negara tidak hanya berfungsi sebagai regulator, tetapi juga sebagai pelaksana syariat dan pelindung masyarakat.
Karena itu, negara berkewajiban menghadirkan sistem pendidikan, media, ekonomi, dan sosial yang mendukung lahirnya generasi bertakwa serta memiliki tujuan hidup yang benar.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Imam adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas rakyat yang diurusnya.” (HR. Al-Bukhari)
Hadis tersebut menunjukkan bahwa menjaga generasi merupakan tanggung jawab bersama yang melibatkan keluarga, masyarakat, dan negara.
Menyelamatkan Generasi dari Krisis Mental dan Kehilangan Arah Hidup
Hari ini semakin banyak remaja yang mengalami kecemasan, depresi, dan kehilangan arah hidup. Padahal mereka adalah calon pemimpin yang akan menentukan masa depan umat dan bangsa.
Karena itu, menyelamatkan generasi tidak cukup dilakukan dengan memperbaiki individu semata. Yang perlu diperbaiki juga adalah sistem kehidupan yang membentuk pola pikir dan perilaku mereka.
Selama sekularisme tetap menjadi landasan kehidupan, berbagai persoalan yang menimpa generasi muda dipandang akan terus bermunculan dalam berbagai bentuk. Sebaliknya, ketika Islam diterapkan secara kaffah, didukung keluarga yang kokoh serta masyarakat yang bertakwa, akan lahir generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kepribadian Islam yang kuat, tujuan hidup yang jelas, dan kesiapan mengemban risalah Islam di masa depan. (vs/kh)
Wallahu a’lam bishawab – Vera Selpia
- Penulis: KangHasan
