Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Opini » Krisis Mental Generasi Muda: Buah Pahit Sekularisme di Era Digital

Krisis Mental Generasi Muda: Buah Pahit Sekularisme di Era Digital

  • account_circle KangHasan
  • calendar_month Senin, 15 Jun 2026
  • visibility 353
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sekularisme dan Hilangnya Makna Hidup

Menurut pandangan penulis, akar persoalan tersebut terletak pada sekularisme, yaitu paham yang memisahkan agama dari kehidupan.

Dalam sistem sekuler, agama lebih banyak ditempatkan sebagai urusan pribadi, sementara berbagai aspek kehidupan diatur berdasarkan pemikiran manusia. Akibatnya, standar halal dan haram perlahan tergeser oleh ukuran kebebasan, manfaat, dan kesenangan.

Kondisi tersebut tidak hanya melahirkan aturan yang menjauhkan agama dari kehidupan publik, tetapi juga melahirkan generasi yang kehilangan makna hidup. Ketika manusia tidak lagi memahami tujuan keberadaannya, maka kegelisahan, kecemasan, dan kehampaan menjadi sesuatu yang sulit dihindari.

Padahal Islam telah menjelaskan tujuan hidup manusia dengan sangat jelas. Allah SWT berfirman:

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat: 56)

Ayat tersebut memberikan pemahaman bahwa manusia memiliki tujuan penciptaan yang pasti. Ketika seorang muslim memahami tujuan hidupnya, ia akan memiliki arah yang jelas dan tidak mudah terombang-ambing oleh tekanan kehidupan.

Kebahagiaan tidak lagi bergantung pada pengakuan manusia atau pencapaian duniawi semata, tetapi pada upaya meraih ridha Allah SWT.

Solusi Krisis Mental Generasi Muda Menurut Islam

Mengatasi kesehatan mental remaja yang semakin mengkhawatirkan tidak cukup hanya melalui seminar parenting, literasi digital, atau layanan konseling. Berbagai upaya tersebut penting, tetapi belum sepenuhnya menyentuh akar persoalan.

Islam menawarkan solusi yang lebih mendasar melalui penerapan ajaran Islam secara menyeluruh dalam kehidupan.

Keluarga memiliki peran penting dalam menanamkan akidah Islam sejak dini serta membentuk kepribadian Islam pada anak. Di sisi lain, masyarakat berperan menciptakan lingkungan yang mendukung ketakwaan melalui budaya amar makruf nahi mungkar.

Adapun negara memiliki tanggung jawab yang sangat besar dalam menjaga generasi. Dalam Islam, negara tidak hanya berfungsi sebagai regulator, tetapi juga sebagai pelaksana syariat dan pelindung masyarakat.

Karena itu, negara berkewajiban menghadirkan sistem pendidikan, media, ekonomi, dan sosial yang mendukung lahirnya generasi bertakwa serta memiliki tujuan hidup yang benar.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Imam adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas rakyat yang diurusnya.” (HR. Al-Bukhari)

Hadis tersebut menunjukkan bahwa menjaga generasi merupakan tanggung jawab bersama yang melibatkan keluarga, masyarakat, dan negara.

Menyelamatkan Generasi dari Krisis Mental dan Kehilangan Arah Hidup

Hari ini semakin banyak remaja yang mengalami kecemasan, depresi, dan kehilangan arah hidup. Padahal mereka adalah calon pemimpin yang akan menentukan masa depan umat dan bangsa.

Karena itu, menyelamatkan generasi tidak cukup dilakukan dengan memperbaiki individu semata. Yang perlu diperbaiki juga adalah sistem kehidupan yang membentuk pola pikir dan perilaku mereka.

Selama sekularisme tetap menjadi landasan kehidupan, berbagai persoalan yang menimpa generasi muda dipandang akan terus bermunculan dalam berbagai bentuk. Sebaliknya, ketika Islam diterapkan secara kaffah, didukung keluarga yang kokoh serta masyarakat yang bertakwa, akan lahir generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kepribadian Islam yang kuat, tujuan hidup yang jelas, dan kesiapan mengemban risalah Islam di masa depan. (vs/kh) 

Wallahu a’lam bishawab – Vera Selpia

  • Penulis: KangHasan

Rekomendasi Untuk Anda

  • Dollar Tembus Rp18.000, Rakyat Butuh Solusi Bukan Sekadar Motivasi

    Dollar Tembus Rp18.000, Rakyat Butuh Solusi Bukan Sekadar Motivasi

    • calendar_month Minggu, 7 Jun 2026
    • account_circle KangHasan
    • visibility 369
    • 0Komentar

    Dollar menyentuh Rp18.000. Saat rakyat menghadapi tekanan ekonomi, apakah motivasi saja cukup menjadi solusi?

  • Kurs Dollar Capai Rp18.095, Salah Siapa?

    Kurs Dollar Capai Rp18.095, Salah Siapa?

    • calendar_month Sabtu, 6 Jun 2026
    • account_circle KangHasan
    • visibility 347
    • 0Komentar

    Dollar AS menyentuh Rp18.095, Salah Siapa? Apa penyebab rupiah melemah dan benarkah masyarakat harus panik?

  • Kasus Mantan ART Tasikmalaya Viral, Korban Disebut Sudah Lapor Polisi Sejak Januari

    Kasus Mantan ART Tasikmalaya Viral, Korban Disebut Sudah Lapor Polisi Sejak Januari

    • calendar_month Senin, 8 Jun 2026
    • account_circle KangHasan
    • visibility 314
    • 0Komentar

    Kasus mantan ART Tasikmalaya viral di media sosial. Korban disebut sudah melapor ke polisi sejak Januari 2026.

  • Cikurubuk Jangan Dibiarkan Redup

    Cikurubuk Jangan Dibiarkan Redup

    • calendar_month Sabtu, 14 Feb 2026
    • account_circle KangHasan
    • visibility 263
    • 0Komentar

    Wartaloka, BERITA TASIKMALAYA – Fajar baru saja merekah di ufuk timur ketika denyut kehidupan mulai terasa di Pasar Cikurubuk. Kesegaran udara pagi serta hawa dingin belum sepenuhnya sirna, namun langkah para pedagang sudah terdengar menapak di lorong-lorong sempit yang sejak puluhan tahun menjadi saksi perputaran ekonomi rakyat. Di sinilah wajah asli perdagangan tradisional Kota Tasikmalaya […]

  • langit italia merah - fenomena alam langka

    Fenomena Langka! Langit Italia Terlihat Merah

    • calendar_month Kamis, 13 Nov 2025
    • account_circle Admin Wartaloka
    • visibility 240
    • 0Komentar

    wartaloka.com, BERITA. Sebuah pemandangan langka sekaligus memukau terjadi di Eropa pada Selasa (12/11/2025). Langit Italia terlihat merah ketika aurora borealis berwarna menyala melintas di atas kawasan Pegunungan Alpen, termasuk di sekitar Gunung Matterhorn, Lembah Aosta. Fenomena ini mencuri perhatian warga hingga viral di berbagai platform media sosial, karena warna aurora yang muncul jauh berbeda dari […]

  • pekerja-sektor-informal-makin-banyak-negara-lemah-ciptakan-lapangan-kerja-opini wartaloka

    Pekerja Informal, UMKM, dan GIG Makin Banyak, Negara Lemah Ciptakan Lapangan Kerja?

    • calendar_month Jumat, 15 Mei 2026
    • account_circle KangHasan
    • visibility 292
    • 0Komentar

    Meningkatnya pekerja sektor informal, dinilai menjadi tanda lemahnya negara dalam menyediakan lapangan kerja layak. Simak analisis dan solusi perspektif Islam.

expand_less