DLH Tasikmalaya Akui Kendala Armada, Penanganan Sampah Tetap Dikebut
- account_circle KangHasan
- calendar_month Selasa, 12 Mei 2026
- visibility 36
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Wartaloka, BERITA TASIKMALAYA – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tasikmalaya memastikan penanganan persoalan penumpukan sampah di sejumlah titik mulai menunjukkan perkembangan positif.
Setelah kondisi di kawasan Depo Dadaha berangsur terkendali, fokus penanganan kini dialihkan ke Pasar Cikurubuk yang dinilai memiliki volume sampah paling besar.
Kepala Bidang Persampahan DLH Kota Tasikmalaya, Feri Arif Maulana, menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas gangguan pelayanan kebersihan yang sempat menimbulkan penumpukan sampah di beberapa lokasi.
Menurutnya, proses penanganan kini dilakukan secara bertahap dan terencana dengan memaksimalkan armada yang tersedia agar kondisi kebersihan kota segera kembali normal.
Pasar Cikurubuk Jadi Fokus Pengangkutan
Setelah penanganan di kawasan Depo Dadaha menunjukkan hasil signifikan, DLH Kota Tasikmalaya mengalihkan konsentrasi ke Pasar Cikurubuk yang saat ini menjadi titik prioritas.
Volume sampah di kawasan pasar tersebut disebut jauh lebih besar dibanding lokasi lain, sehingga membutuhkan perhatian khusus agar akses aktivitas masyarakat tidak terus terganggu.
DLH menargetkan proses pengangkutan di Pasar Cikurubuk dapat berlangsung dalam dua hingga tiga hari ke depan, setidaknya untuk membuka kembali akses jalan yang sempat tertutup tumpukan sampah.
Selain Pasar Cikurubuk, penanganan juga dilakukan di sejumlah titik lain seperti kawasan SL Tobing dan Depo Pasar Lama yang terus dipantau petugas.
Keterbatasan Armada Jadi Tantangan
Dalam proses penanganan sampah, DLH Kota Tasikmalaya mengakui masih menghadapi tantangan berupa keterbatasan armada operasional.
Saat ini, instansi tersebut memiliki sekitar 42 kendaraan operasional yang terdiri dari dump truck dan arm roll. Namun, sebagian kendaraan disebut sudah berusia tua dan membutuhkan peremajaan.
Beberapa armada bahkan diketahui merupakan kendaraan produksi tahun 2005 hingga 2006, yang tentu memengaruhi efektivitas operasional di lapangan.
Meski demikian, DLH menegaskan seluruh armada yang masih berfungsi terus dioptimalkan untuk menjaga pelayanan kepada masyarakat.
Pemerintah daerah juga disebut tengah mengupayakan dukungan untuk peremajaan kendaraan operasional guna meningkatkan kapasitas penanganan sampah di masa mendatang.
Lonjakan Volume Sampah Jadi Penyebab
DLH menjelaskan salah satu faktor yang memicu penumpukan sampah di Kota Tasikmalaya adalah meningkatnya volume sampah dalam sepekan terakhir.
Untuk menekan beban yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA), pengelolaan sampah saat ini juga mengandalkan sistem TPS3R dan bank sampah, sehingga hanya residu akhir yang dikirim ke TPA.
Di kawasan Depo Dadaha sendiri, volume sampah sempat diperkirakan mencapai sekitar 120 meter kubik. Sementara di Pasar Cikurubuk, jumlahnya disebut lebih besar.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa tantangan pengelolaan sampah di Kota Tasikmalaya tidak hanya berkaitan dengan pengangkutan, tetapi juga peningkatan produksi sampah dari masyarakat.
Perlu Dukungan Kolektif
Persoalan sampah bukan semata tanggung jawab pemerintah, melainkan juga membutuhkan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan dari tingkat rumah tangga.
Pemilahan sampah, pengurangan penggunaan bahan sekali pakai, serta optimalisasi bank sampah dinilai menjadi bagian penting dalam menciptakan sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
Dengan langkah percepatan yang kini dilakukan DLH Kota Tasikmalaya, masyarakat berharap persoalan penumpukan sampah segera teratasi sepenuhnya agar kenyamanan lingkungan perkotaan kembali pulih. (kh)
- Penulis: KangHasan
