Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Opini » Harga Kedelai Impor Naik, Perajin Tempe Kian Terhimpit

Harga Kedelai Impor Naik, Perajin Tempe Kian Terhimpit

  • account_circle KangHasan
  • calendar_month Senin, 15 Jun 2026
  • visibility 335
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Wartaloka, OPINI – Kenaikan harga kedelai impor kembali menjadi pukulan berat bagi para perajin tempe di berbagai daerah. Di tengah melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, biaya produksi terus meningkat sementara daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih. Kondisi ini membuat banyak pelaku usaha kecil harus memutar otak agar tetap bertahan tanpa kehilangan pelanggan.

Salah satu pedagang di Pasar Rumput, Jakarta Selatan, mengungkapkan bahwa para pengrajin tempe kini memilih mengurangi ukuran produk dibandingkan menaikkan harga secara signifikan. Langkah tersebut dilakukan agar tempe dan tahu tetap terjangkau bagi masyarakat.

“Kalau harga kedelai naik, biasanya ukuran tempe dikurangi. Harga masih bisa dipertahankan supaya pembeli tidak keberatan,” ujarnya saat ditemui Kumparan, Sabtu (23/5/2026).

Fenomena ini menunjukkan bagaimana kenaikan harga kedelai impor berdampak langsung pada masyarakat. Tempe yang selama ini dikenal sebagai makanan rakyat dan sumber protein murah kini ikut terdampak gejolak ekonomi global.

Harga Kedelai Impor Naik, Harga Tempe Terancam Melambung

Tempe dan tahu merupakan sumber protein nabati yang menjadi pilihan utama banyak keluarga Indonesia. Selain mudah diperoleh, harganya selama ini relatif lebih terjangkau dibandingkan sumber protein hewani seperti daging, ayam, maupun ikan.

Namun ketika harga kedelai impor naik, biaya produksi otomatis meningkat. Akibatnya, para perajin menghadapi dilema besar. Jika harga dinaikkan, mereka khawatir kehilangan pelanggan. Sebaliknya, jika harga dipertahankan, keuntungan mereka semakin menipis.

Dalam beberapa waktu terakhir, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS bahkan sempat menyentuh kisaran Rp17.700 per dolar. Kondisi tersebut membuat harga bahan baku impor semakin mahal dan memberikan tekanan besar terhadap industri tahu-tempe nasional.

Selain harga kedelai yang meningkat, para pengrajin juga harus menghadapi kenaikan biaya kemasan dan berbagai kebutuhan produksi lainnya. Banyak pelaku usaha akhirnya mengurangi jumlah produksi, memperkecil ukuran tempe, atau menekan margin keuntungan agar usaha tetap berjalan.

Ketergantungan Impor dan Rapuhnya Ketahanan Pangan Indonesia

Persoalan ini tidak hanya berkaitan dengan naik turunnya harga bahan baku. Di baliknya terdapat persoalan yang lebih besar, yaitu ketergantungan Indonesia terhadap kedelai impor.

Selama bertahun-tahun, sebagian besar kebutuhan kedelai nasional dipenuhi dari luar negeri, terutama Amerika Serikat. Akibatnya, ketika nilai tukar rupiah melemah atau terjadi gangguan pasokan global, industri tahu dan tempe nasional langsung merasakan dampaknya.

Padahal pada masa lalu Indonesia pernah memiliki produksi kedelai lokal yang cukup signifikan. Namun derasnya arus impor membuat daya saing petani kedelai lokal semakin melemah. Banyak lahan pertanian beralih fungsi dan ketergantungan terhadap impor terus meningkat.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ketahanan pangan Indonesia masih menghadapi tantangan besar. Ketika pasokan bahan baku strategis bergantung pada negara lain, masyarakat menjadi rentan terhadap gejolak ekonomi internasional.

Sistem Kapitalisme dan Dampaknya terhadap Pangan Rakyat

Menurut pandangan penulis, kondisi yang terjadi saat ini merupakan konsekuensi dari sistem ekonomi kapitalisme yang menempatkan keuntungan sebagai orientasi utama.

Dalam sistem tersebut, efisiensi dan keuntungan ekonomi sering kali menjadi prioritas, sementara perlindungan terhadap produsen kecil dan ketahanan pangan jangka panjang kurang mendapatkan perhatian yang memadai.

Akibatnya, ketika terjadi gejolak nilai tukar atau kenaikan harga komoditas global, kelompok masyarakat kecil menjadi pihak yang pertama merasakan dampaknya. Para perajin tempe harus menanggung kenaikan biaya produksi, sementara konsumen menghadapi kenaikan harga pangan.

Selanjutnya –> Solusi menurut Islam

  • Penulis: KangHasan

Rekomendasi Untuk Anda

  • Banjar dan Ciamis Berani, Tasikmalaya Kapan?

    Banjar dan Ciamis Berani, Tasikmalaya Kapan?

    • calendar_month Jumat, 23 Jan 2026
    • account_circle KangHasan
    • visibility 221
    • 0Komentar

    Wartaloka, BERITA TASIKMALAYA – Langkah Kota Banjar dan Kabupaten Ciamis memang tidak disertai seremoni besar atau narasi pencitraan. Namun justru karena itulah kebijakan tersebut terasa kuat. Di tengah tekanan fiskal yang makin nyata, dua daerah ini mengambil langkah yang jarang dilakukan: memangkas langsung tunjangan DPRD. Kebijakan ini pun memantik sorotan publik, termasuk terhadap tunjangan anggota […]

  • Rajin OTT, tapi Malas Antisipasi?

    Rajin OTT, tapi Malas Antisipasi?

    • calendar_month Minggu, 15 Mar 2026
    • account_circle KangHasan
    • visibility 314
    • 0Komentar

    Wartaloka, OPINI – Gelombang operasi tangkap tangan (OTT) terhadap kepala daerah kembali terjadi dalam waktu yang berdekatan. Teranyar, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menangkap Bupati Cilacap Syamsul Auliya Rachman dalam operasi di Jawa Tengah. Penangkapan ini menambah daftar kepala daerah yang terjerat kasus korupsi dalam beberapa bulan terakhir. Sebelumnya, KPK juga menjerat Bupati Pati Sudewo serta […]

  • Defisit Anggaran APBD Jabar Awal 2026, Tunggakan Proyek Capai ratusan Miliar

    Defisit Anggaran APBD Jabar Awal 2026, Tunggakan Proyek Capai ratusan Miliar

    • calendar_month Jumat, 9 Jan 2026
    • account_circle KangHasan
    • visibility 248
    • 0Komentar

    Wartaloka, BERITA JABAR – Pemerintah Provinsi Jawa Barat mengawali Tahun Anggaran 2026 dengan tekanan fiskal yang cukup berat. Kewajiban melunasi tunggakan pembayaran sejumlah proyek pembangunan tahun 2025 senilai Rp621 miliar menjadi beban awal yang langsung menggerus ruang fiskal daerah dan tantangan serius dalam pengelolaan APBD 2026. Kondisi ini diakui Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, dalam […]

  • Sudah Merdeka, Tapi Benarkah Kita Bebas? Perspektif Islam tentang Kemerdekaan

    Sudah Merdeka, Tapi Benarkah Kita Bebas? Perspektif Islam tentang Kemerdekaan

    • calendar_month Minggu, 16 Agt 2026
    • account_circle KangHasan
    • visibility 103
    • 0Komentar

    Makna kemerdekaan Indonesia dibandingkan dengan perspektif Islam tentang kebebasan, keadilan, dan penghambaan kepada Allah.

  • Bayar Pajak Kini Makin Mudah, Bapenda Sukabumi Hadirkan Layanan Digital dan Hadiah Umroh

    Bayar Pajak Kini Makin Mudah, Bapenda Sukabumi Hadirkan Layanan Digital dan Hadiah Umroh

    • calendar_month Selasa, 3 Feb 2026
    • account_circle KangHasan
    • visibility 271
    • 0Komentar

    Wartaloka, BERITA SUKABUMI – Pajak yang dibayarkan masyarakat kepada pemerintah, baik pusat maupun daerah, sejatinya kembali lagi untuk kepentingan publik. Mulai dari pembangunan infrastruktur, layanan pendidikan, kesehatan, hingga perlindungan sosial. Di Kabupaten Sukabumi, peran pajak menjadi tulang punggung pembiayaan pembangunan daerah yang berkelanjutan. Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kabupaten Sukabumi mencatat sedikitnya terdapat lima manfaat utama […]

  • Dedie Rachim Serahkan DPA Kota Bogor 2026, Tekankan Integritas ASN

    Dedie Rachim Serahkan DPA Kota Bogor 2026, Tekankan Integritas ASN

    • calendar_month Minggu, 4 Jan 2026
    • account_circle KangHasan
    • visibility 229
    • 0Komentar

    Wartaloka, BERITA BOGOR – Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim menegaskan bahwa tantangan pembangunan ke depan akan semakin berat, sementara harapan masyarakat terus meningkat. Pesan itu ia sampaikan saat menyerahkan Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) Kota Bogor Tahun Anggaran 2026 di Paseban Sri Bima, Balai Kota Bogor, Jumat (2/1/2026). Di awal tahun anggaran, Dedie mengingatkan seluruh […]

expand_less