Memaknai Peringatan Hari Kartini ke-147
- account_circle KangHasan
- calendar_month 10 jam yang lalu
- visibility 10
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Wartaloka, OPINI – Setiap tanggal 21 April, kita kembali memperingati Hari Kartini ke-147. Tapi jujur saja, bagi sebagian anak muda—terutama Gen Z—peringatan ini kadang terasa seperti rutinitas tahunan: unggah foto pakai kebaya, bikin caption singkat, lalu selesai.
Padahal kalau ditarik lebih dalam, Hari Kartini ke-147 bukan cuma soal mengenang masa lalu. Ini soal bagaimana kita, terutama generasi sekarang, memahami ulang arti perjuangan Raden Ajeng Kartini dalam realitas yang sudah jauh berubah.
Pertanyaannya sederhana: apakah nilai-nilai Kartini masih hidup di era digital hari ini?
Kartini di Era Scroll dan Swipe
Gen Z hidup di dunia yang sangat berbeda dibanding masa Kartini. Informasi bisa diakses dalam hitungan detik, peluang terbuka lebar, dan siapa pun bisa “bersuara” lewat media sosial. Tapi di balik semua kemudahan itu, tantangan juga ikut berkembang.
Di sinilah Hari Kartini ke-147 menemukan relevansinya.
Dulu, Kartini berjuang agar perempuan bisa mendapatkan pendidikan. Sekarang? Banyak perempuan sudah sekolah tinggi, bahkan memimpin di berbagai bidang. Tapi perjuangan belum selesai—hanya bentuknya yang berubah.
Hari ini, tantangan itu hadir dalam bentuk lain:
- Standar sosial di media sosial
- Tekanan untuk “terlihat sempurna”
- Cyberbullying dan stereotip digital
- Ketimpangan akses teknologi di beberapa daerah
Jadi, memaknai Hari Kartini ke-147 bukan lagi soal membuka pintu pendidikan, tapi bagaimana bertahan dan berkembang di ruang digital yang tidak selalu ramah.
Gen Z: Lebih Bebas, Tapi Juga Lebih Ditantang
Kalau dilihat, Gen Z punya sesuatu yang mungkin tidak dimiliki generasi sebelumnya: keberanian untuk bicara.
Banyak perempuan muda sekarang berani menyuarakan opini, membangun bisnis dari nol, bahkan menciptakan tren sendiri. Mereka tidak menunggu kesempatan—mereka menciptakannya.
Dalam konteks Hari Kartini ke-147, ini adalah bentuk emansipasi versi baru.
Tapi di sisi lain, kebebasan ini juga punya konsekuensi. Tidak semua kebebasan berarti kemajuan. Tanpa arah yang jelas, kebebasan justru bisa jadi bumerang.
Di sinilah nilai perjuangan Raden Ajeng Kartini kembali relevan: bukan sekadar bebas, tapi punya tujuan.
Dari Seremonial ke Kesadaran
Masalah yang sering terjadi, Hari Kartini ke-147 berhenti di simbol. Padahal, makna sebenarnya justru ada di hal-hal kecil yang sering tidak disadari.
Misalnya:
- Mendukung teman atau keluarga perempuan untuk berkembang
- Tidak merendahkan pilihan hidup orang lain
- Menggunakan media sosial untuk hal yang lebih positif
- Memberi ruang yang adil, baik di dunia nyata maupun digital
Hal-hal sederhana seperti ini justru lebih “Kartini” daripada sekadar seremoni tahunan.
Karena pada akhirnya, perjuangan tidak selalu harus besar. Kadang, perubahan justru dimulai dari kebiasaan kecil yang konsisten.
Hari Kartini ke-147: Tentang Masa Depan, Bukan Masa Lalu
Yang sering dilupakan, Hari Kartini ke-147 bukan hanya tentang mengenang sejarah. Ini tentang arah ke depan.
Apakah generasi sekarang akan melanjutkan semangat itu? Atau justru kehilangan maknanya di tengah hiruk-pikuk dunia digital?
Gen Z punya potensi besar untuk membawa semangat Kartini ke level berikutnya. Dengan akses teknologi, kreativitas, dan keberanian, generasi ini bisa menciptakan perubahan yang lebih luas dan cepat.
Tapi semua itu kembali ke pilihan: mau sekadar ikut tren, atau benar-benar memahami makna di baliknya.
Karena pada akhirnya, Hari Kartini ke-147 bukan soal siapa yang paling meriah merayakan, tapi siapa yang benar-benar menghidupi nilai perjuangannya. (KH)
- Penulis: KangHasan

Saat ini belum ada komentar