Mogok Kerja Petugas Perparah Kondisi Krisis Sampah Tasikmalaya
- account_circle KangHasan
- calendar_month Selasa, 5 Mei 2026
- visibility 43
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Wartaloka, BERITA TASIKMALAYA – Persoalan sampah Tasikmalaya 2026 kembali menjadi perhatian serius. Sistem pengelolaan yang belum optimal kini diperparah oleh aksi mogok kerja sekitar 120 tenaga kebersihan, yang berdampak langsung pada penumpukan sampah di sejumlah sudut Kota Tasikmalaya.
Pengelolaan Sampah Tasikmalaya Masih Konvensional
Hingga saat ini, pengelolaan sampah Tasikmalaya masih bertumpu pada pola lama, yakni kumpul–angkut–buang. Pendekatan ini dinilai belum efektif karena belum menyentuh akar masalah dari hulu, yaitu pemilahan sampah sejak dari rumah tangga.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) sebenarnya telah mendorong perubahan sistem, namun implementasi di lapangan masih menghadapi berbagai kendala. Mulai dari minimnya kesadaran masyarakat, keterbatasan armada, hingga kurangnya fasilitas pendukung.
Akibatnya, krisis sampah kota Tasik menjadi persoalan yang terus berulang setiap tahun.
Volume Sampah Terus Meningkat
Permasalahan semakin kompleks karena volume sampah terus meningkat, terutama saat momen tertentu seperti Ramadan dan Lebaran. Kenaikan ini bisa mencapai dua digit persentase, sehingga membebani sistem yang sudah terbatas.
Dalam kondisi normal saja, petugas harus bekerja ekstra dengan sistem lembur. Ketika terjadi gangguan, dampaknya langsung terasa di lapangan.
120 Petugas Mogok Kerja, Ini Penyebabnya
Situasi memanas ketika terjadi mogok kerja petugas kebersihan yang melibatkan sekitar 120 orang. Aksi ini dipicu oleh persoalan klasik yang belum terselesaikan, yaitu keterlambatan pembayaran gaji.
Beberapa petugas mengeluhkan bahwa upah yang seharusnya diterima tepat waktu justru mengalami penundaan. Selain itu, beban kerja yang tinggi tanpa diimbangi kesejahteraan yang memadai turut menjadi pemicu kekecewaan.
Isu gaji petugas kebersihan telat ini akhirnya memicu aksi kolektif yang berdampak langsung pada operasional di lapangan.
Dampak: Penumpukan Sampah di Sejumlah Titik
Akibat mogok kerja tersebut, penumpukan sampah Tasikmalaya tak terhindarkan. Sejumlah Tempat Penampungan Sementara (TPS) dilaporkan penuh, bahkan meluber ke badan jalan.
Kondisi ini menimbulkan bau tak sedap, mengganggu aktivitas warga, serta berpotensi menimbulkan masalah kesehatan dan pencemaran lingkungan.
Ketergantungan tinggi terhadap tenaga manual membuat sistem pengelolaan sampah menjadi sangat rentan terhadap gangguan.
Perlu Pembenahan Sistem dan Kesejahteraan Petugas
Masalah sampah Tasikmalaya 2026 tidak bisa diselesaikan secara parsial. Diperlukan pembenahan menyeluruh dari hulu hingga hilir.
Beberapa langkah yang dinilai mendesak antara lain:
perbaikan sistem pengelolaan berbasis pemilahan dari sumber
- peningkatan sarana dan armada pengangkut
- kepastian pembayaran upah tenaga kebersihan
- edukasi masyarakat terkait pengurangan sampah
Tanpa langkah konkret, potensi krisis yang lebih besar akan terus membayangi.
Krisis sampah Tasikmalaya 2026 menjadi gambaran nyata bahwa persoalan lingkungan tidak bisa dianggap sepele. Mogok kerja 120 petugas kebersihan akibat persoalan kesejahteraan menjadi alarm keras bagi pemerintah daerah.
Jika tidak segera dibenahi, pengelolaan sampah Tasikmalaya berisiko semakin memburuk dan berdampak luas bagi masyarakat. (kh)
- Penulis: KangHasan
